Peluang Bisnis Wisata Bahari 2009
Posted by Arifin Hutabarat pada 6 November, 2008
Sinar harapan baru terpancar dari Presiden baru AS, Barrack Obama, namun krisis keuangan AS yang telah sempat menggoyang kegiatan ekonomi di dunia, mengimbas pada pariwisata dan bayangan pancaroba peluang bisnis masih berada di tahap fajar menyingsing. Maka pariwisata Indonesia pun mengoreksi target-target kegiatan untuk tahun 2009. Dirjen Pemasaran Depbudpar, Sapta Nirwandar mengumumkan target rendah jumlah wisman 5,2 juta, target menengah 6,1 juta, kendati target tinggi tetap 8 juta.
Pengalaman tahun 2008 hari-hari ini menunjukkan, target 7 juta nyaris tak berhasil disebabkan beberapa perkembangan kondisi objektif termasuk krisis global, kendati target menengah 6,5 juta sudah hampir pasti bisa terealisasi.
Pemerintah mengarahkan fokus pemasaran pariwisata bahari – marine tourism -, dan MICE – meeting, incentive, convention, exhibition – untuk tahun 2009. Mari kita tengok prospek wisata bahari. Teoritis, wisata bahari akan mencakup kegiatan dan peluang bisnis yang terdiri dari :
Sailing
Cruising
Yachting
Diving
Snorkeling
Wind Surfing
Surfing
Jet Ski Sport
Power Boating
Canoeing
Sea Kayaking
Boat Racing
Whale watching
Sport Fishing
Itu kemudian menuntut konsekuensi penyiapan sarana prasarana serta pelaku pengelola dan pelaksana; aksesibilitas ke produk dan destinasi marine tourism, dan , pedagang perantara alias travel dan tour operator yang mumpuni. Ini satu pertanyaan, atau, tantangan yang urgen mengingat dijadikannya sebagai fokus pemasaran tahun 2009.
Marine tourism dengan kegiatan tsb di atas, memerlukan pelayanan publik:
SDM penjaga pantai yang handal.
SAR yang siap sedia.
Peralatan keselamatan / kendaraan di darat sampai helikopter.
Peraturan-peraturan / urusan CIQ, keselamatan, keamanan yang berstandar internasional.
Dan sejumlah teknikaliti lain.
Jadi, di satu sisi semua faktor-faktor tersebut di atas merupakan persyaratan – requirement - , yang perlu dipenuhi. Di sisi lainnya, mata rantai faktor-faktor itu menciptakan peluang bisnis : aksesibilitas atau transportasi khusus untuk kegiatan marine, peralatan untuk dipergunakan oleh wisman, tenaga pramuwisata dan marine acitivty guide yang terlatih, mulai dari yang ringan kegiatan memancing, berlayar, berselancar sampai menyelam. Hingga akhirnya tenaga dan peralatan pendukung keselamatan dan keamanan kegiatan di laut.
Beberapa spot kegiatan wisata bahari di Indonesia hingga kini selain masih terbatas dalam jumlah, dan juga skala atau luasnya, juga tampak belum diminati oleh lebih banyak kalangan pengusaha Indonesia. Kebanyakan, hampir semua, diinisiasi, dikelola, dipertahankan dan untuk diperluas oleh pengusaha yang warga asing. Mereka tentu saja patut diberi hormat atas dedikasi mereka sebagai pioneer. Maka hiduplah kini kegiatan diving di area nun jauh, tapi didatangi oleh wisman juga dari balik dunia: Pulau Raja Ampat di laut Papua Barat, Wakatobi di laut Sulawesi Tenggara, Salayar di laut Sulawesi Selatan, Walea di laut Sulawesi Tengah / Utara, di pulau Mentawai sebelah Barat Sumatra. Adapun pulau Bali dan Bunaken di lepas pantai Manado sudah merupakan destinasi tradisi di pariwisata Indonesia bagi wisata bahari.
Indonesia sudah mempunyai asosiasi pengusaha wisata bahari , Gahawisri – Gabungan Pengusaha Wisata Bahari. Belum jelas jumlah dan kegiatan anggota organisasi ini. Seperti terasa di kegiatan pemasaran ordinary holiday packaged tours, dengan meningkatkan jumlah wisman yang hendak dicapai tahun 2009, memerlukan juga penambahan operator tour. Kalau bukan existing player yang meningkatkan kemampuan dan volume bisnis, maka new player haruslah muncul dengan investasi modal, ketrampilan dan keberanian. Agaknya serupa itu juga akan terjadi di sektor marine tourism business.
Para existing player tampaknya diperlukan untuk berkenan menularkan semacam pendidikan dan pelatihan agar tersedia tenaga terampil menangani kegiatan marine tourism. Lebih dari itu, di tengah persaingan yang biasanya menajam ketika terjun di bisnis itu sendiri, kerjasama dan information exchange untuk menerobos pasar dan pemasaran di mancanegara, juga diperlukan antara new entrants dan mereka yang sudah memiliki jam terbang yang panjang. Pemerintah, ya, kembali jadi fasilitator dan supporter dengan kemampuan lembaga dan dana.
Atau, pemerintah sebagai fasilitator dan supporter tetap di garis depan memfasilitasi pengembangan sarana prasarana, sampai kegiatan pendidikan dan pemasaran.
Kalau kita mengetahui situasi riel di kalangan pelaku bisnis yang sudah ada, dan mengetahui tata kelola yang akan dijalankan oleh fasilitator dan supporter Pemerintah, ya di Pusat dan di daerah yang berkepentingan,- maka tentulah calon-calon pemain baru akan dapat melihat mengikuti sinar harapan bisnis untuk tahun 2009, ke mana dan berapa investasi yang akan diperlukan. Dan, dari mana wisman akan datang? Siapa dan bagaimana upaya mendatangkan mereka?
Amerika Serikat merupakan salah satu produser wisman terbanyak untuk wisata bahari.
Fakta empiris masa lalu jualah yang mengingatkan, ketika fasilitas dan dalam tanda kutip sarana untuk wisatawan di bangun, antara lain di agro wisata,– setahun dua kemudian sarana tersebut menua seperti rumah yang tak ditempati manusia sekalipun baru didirikan, dalam beberapa bulan atapnya bocor, sinar warnanya pudar, kusam dan tak terawat karena memang tak dipakai lantaran wisman tidak cukup memberi hasil membiayai operasi dan maintenance.
Fokus wisata bahari di Indonesia untuk tahun 2009, boleh jadi titik awal baru bagi negeri ini dan pengusahanya, untuk mensublim air laut yang dimikian luas menjadi dollar atau mata uang asing yang gemerincing sampai ke tangan penduduk dipesisir pantai. Pantai laut di Indonesia, nomor dua terpanjang di dunia! Setelah Kanada.
Kalau Pemerintah diibaratkan the ship, maka berlakulah the trade will follow the ship.
Bahasan-bahasan cukup komprehensif dari berbagai aspek mengenai wisata bahari ini telah dihimpun oleh suatu Seminar Nasional Pariwisata Bahari, tanggal 26 Agustus 2008 di Jakarta. Diselenggarakan oleh Ikatan Konsultan Indonesia ( Inkindo) bekerjasama dengan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata serta pihak Batavia Sunda Kelapa Marina (BSKM).

NewsStory terbaru ?






peluang berkata
nice artikel..wah peluang bisnis yang bagus ne…
cyberbangka berkata
Boleh juga dicoba, siapa tahu jadi peluang bisnis yang menghasilkan
mbahcyber berkata
Mbah juga pengen bisnis nich siapa tahu bisa sukses kayak mbah Surip ha..ha..ha
ruddy berkata
Saya tertarik dengan bisnis wisata bahari dan sangat perlu informasi tentang wisata bahari untuk itu saya perlu alamat komunitas wisata bahari dimana ?
terimakasih
yunita berkata
saya ingin sekali berbisnis di bidang wisata krn memang dulu saya suka travelling… tolong info nya donk.. tempat mana saja yg bagus murah dan menarik untuk berwisata ke daerah bali..trims
yunita berkata
saya ingin sekali berbisnis di bidang wisata krn memang dulu saya suka travelling… tolong info nya donk.. tempat mana saja yg bagus murah dan menarik untuk berwisata..trims
Noersal Samad berkata
Setiap rencana pengembangan bisnis pariwisata dimulai dari INVENTARISASI DATA (touristic data). Disinilah titik lemahnya kita.
Pertanyaan:”Dari mana kita mulai?” Starting point. Pelabuhan. Saya
pernah mengirim Questionnaire ke seluruh pelabuhan yang ada alamatnya di Indonesia. Hasilnya? Pada masa itu (1965) hanya satu pelabuhan yang bersedia memberi jawaban. Menyedihkan bukan?
Untuk datang ke semua pelabuhan untuk meghimpun data yang diperlukan memerlukan biaya yang tidak sedikit. Siapa yang bersedia mensponsorinya?
Sebagai contoh: Pada awal tahun 1966 kami (dari NITOUR Inc.)menghimpun data yang diperlukan oleh Holland Americ Lines dari Pulau Nias. Biaya yang dikeluarkan berjumlah Rp 23.000.000. Padahal APBN pada masa itu baru beberapa ratus juta saja, belum berbicara milyaran rupiah atau trilyunan seperti sekarang. Itupun baru menghimpun data Pelabuhan Teluk Dalam saja (Nias Selatan).
Tahun 1968, untuk persiapan penerimaan kapal Statendam di Ternate diperlukan biaya sebesar Rp 26.000.000, belum termasuk biaya yang dikeluarkan oleh Pemerintah setempat.
Jalas pintas. Barangkali, semua kabupaten yang mempunyai pelabuhan yang berpotensi wisata bahari bersedia mencalonkan tenaga penghimpun data untuk dilatih menghimpun data wisata bahari
wilayah mereka. Lagi-lagi siapa sponsornya?
Kalau kita boleh jujur, berapa banyak Akademi atau/dan Sekolah Tinggi Pariwisata yang mengajarkan “Cruise Planning & Operations”?
Ambillah pelabuhan Tg. Periuk saja, sebagai umpama, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan data “FISHING” (nantilah untuk kegiatan wisata bahari lain) di kepulauan seribu?
(1) Berapa jumlah Pawang Ikan yang tersedia?
(2) Berapa jauh dari pelabuhan tempat-tempat ikan berkumpul yang mudah dipancing?
(3) Jenis umpan apa saja yang disukai ikan-ikan setempat?
(4) Berapa jenis ikan yang ada?
(5) Jenis tackle apa yang baik di paklai?
(6) Bulan-bulan apa ikan tersebut berada di sana?
(7) Bagaimana keadaan arus laut dan angin, dst
Ini baru beberapa contoh pertanyan dari sekian puluh pertanyaan untuk “fishing” saja. Belum yang lain-lain. Untuk diajarkan di Akademi Pariwisata, rasanya, pengetahuan mengenai “Pariwisata Bahari “tiga (3) tahun belumlah cukup.
Dosennya? Kita seyogianya memakai “snow ball system”. Satu dosen melatih beberapa calon-calon dosen. Kemudian, mereka melatih calon dosen di calon kawasan wisata bahari domisili mereka atau kawasan wisata bahari lain.
Kebetulan saya menggeluti “Cruise Planning & Operations” untuk beberapa pelabuhan di Indonesia (terutama Indonesia bagian Barat dan Tengah) selama 9 (sembilan) tahun. Pengetahuan, yang tidak terlalu banyak mengenai ini, masih tersimpan dalam otak saya dan rasanya, Insya Allah, siap untuk ditularkan bila diperlukan, dalam rangka “crash program” pendidikan secara “snow ball system” di atas.
Mudah-mudahan bisa ditanggapi dengan “positive thinking”. Terlepas dari pikiran bahwa saya membanggakan diri dan terjauh pula dari “ria”.
Noersal Samad berkata
Peminat wisata bahari, terutama yang ingin merancang / mengelola
pantai dan pulau wisata secara sederhana (tetapi apik), silakan kunjungi / klik http://travelcareer.blogspot.com
Semoga terinspirasi terjun ke bidang marine tour business dan turut menjadikan Indonesia “The Caribbean in the East”. Lebih kurang 47 juta wisatawan Amerika Serikat menikmati layanan Cruise Ship ke pulau-pulau di Karibia pada tahun yang lalu.
Moga-moga mimpi ini bisa kita ujutkan secara teamwork (Together
Everyone Achieves More).
Salam hangat pariwisata,
Drs. Noersal Samad, MA
Noersal Samad berkata
Bagi yang berminat mengelola / mengembangkan pantai & pulau wisata, silakan kunjungi http://travelcareer.blogspot.com
Semoga bisa menambah inspirasi ketika Anda merancang produk wisata
bahari dan agrowisata.
Salam hangat pariwisata!
Drs. Noersal Samad, MA
http://tatcara.blogspot.com
http://pedulipariwisata.blogspot.com
http://tourguidingpractice.blogspot.com
bisnisku berkata
peluang bisnis yang bagus nih..thanks artkelnya