Baik mengikuti jejak Diparda DKI
Ditulis oleh Arifin Hutabarat di/pada 1 Desember, 2008
CARE TOURISM termasuk yang diundang menghadiri pertemuan untuk membahas Data Kapariwisataan 2008 yang disajikan oleh Dinas Pariwisata DKI Jakarta, pada Jumat 28 Nopember yll. Bermanfaat? Tentu saja. Statistik cenderung bersifat makro, yang kadangkala untuk batas tertentu tak sepenuhnya mencerminkan situasi mikro. Saya telah menjadi anggota CT dan ikut bersama anggota Cri Murti Adhi dan Soelaeman Wiriaatmadja menghadiri pembahasan tersebut.
Rupanya telah beberapa kali diadakan pembahasan serupa di tahun-tahun sebelumnya. Diparda DKI menghimpun data up to date, lalu di akhir tahun, menyajikannya untuk ‘diperiksa’ bersama. Maka hadirlah di situ berbagai asosiasi: Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia, Aspehindo, Himpunan Pramuwisata, Asperapi, Putri, Gahawisri, Care Tourism, Biro Pusat Statistik DKI, dan individual pemerhati.
Tentu bermanfaat. Di situ disajikan oleh Diparda DKI mengenai Data Produk Pariwisata, Data Event Pariwisata, Data Wisman dengan berbagai rincian informasi, Data Wisnus, Data Pendukung lainnya, Data Kebijakan Kepariwisataan. Akhirnya kendati ringkas, Diparda DKI menulis rekomendasi apa yang hendak dilakukan terhadap pasar wisman dan pasar wisnus.
Di samping itu, suatu daftar lengkap diberikan berisi data objek wisata di setiap kota administrasi Jakarta Pusat, Barat, Timur, Selatan, Kepulauan Seribu, dls.
Beberapa data tampak memerlukan koreksi, dan mengundang elaborasi yang mendekati pemahaman realitas. Maklumlah, statistik cenderung bersifat makro, yang kadangkala tak sepenuhnya mencerminkan situasi mikro. Misalnya, tercatat di DKI itu terdapat 1507 Biro Perjalanan Wisata atau tour operator, ada cabang BPW sejumlah 260, dan Agen Perjalanan 114. Jumlah sebanyak itu, mestinya bisa menghasilkan lebih banyak jumlah wisman yang berkunjung ke Indonesia dibandingkan dengan apa yang dicatat oleh statistik.
Maka lalu disadari, dengan penjelasan yang diberikan oleh Ketua ASITA – Asosiasi Biro Perjalanan Indonesia DKI -, bahwa dalam kenyataan di lapangan memang sebagian yang terdaftar berdasarkan dokumen perizinan, tidak menjalankan kegiatan bisnis yang dimaksud. Di antara 1507 BPW yang tercatat di DKI, yang telah masuk sebagai anggota ASITA sebanyak sekitar 1200. Dan di antara anggota itu, ada yang tidak aktif atau sedang tidak aktif dalam kegiatan bisnis tour operator yang mendatangkan atau menangani wisman.
Bagaimanapun, sosialisasi dan pengecekan serta pembahasan ulang bersama unsur-unsur industri pariwisata sekaligus instansi pemerintah lain, yang dilakukan oleh Diparda DKI tersebut, baik juga diperhatikan oleh Diparda di daerah-daerah lain.
“Memang inilah tujuan kjita. Kita bisa mengoreksi di mana perlu,” itulah penegasan yang diberikan oleh pihak Diparda DKI dalam pertemuan pembahasan tersebut. Dan Care Tourism selalu berupaya memberikan masukan-masukan pada pertemuan serupa itu.
















turut mensponsori Blogspot ini. Kami sangat menghargai semangat yang terkandung dalam sponsorship Depbudpar. Mari kita bicarakan, kita inspirasi, dan mendorong meningkatnya kegiatan bisnis kepariwisataan. Agar meluaskan peluang usaha, kesempatan kerja, dan penerimaan devisa berorientasi kesejahteraan bangsa. Bersama memajukan pariwisata, Indonesia Bisa !







sekitar 13 juta kini dilanda gizi buruk di negeri ini.



