…………Travel Tourism Indonesia…TTIspot

. . . . . . . . . . Mari kita monitor denyut nadi pariwisata. Lihat PILIH KATEGORI.

Wisata Domestik? Jangan Mislead!

Ditulis oleh Arifin Hutabarat di/pada 15 Desember, 2008

Cecep Rukmana

Cecep Rukmana

Suara dari Jawa Barat

Hari-hari terakhir ini banyak diwacanakan kita perlu “mengalihkan” sasaran dari mengejar wisman, untuk beralih ke wisnus. Karena krisis ekonomi global diniscayakan mengurangi jumlah wisman dari mana-mana. Termasuk Diparda DKI berpikir ke arah itu untuk tahun 2009. Tapi, baiknya tunggu dulu! Wisata domestik di negeri kita itu pada dasarnya bertumbuh alamiah.

 

Kalau “pengalihan” itu diartikan kegiatan dan biaya promosi ke mancanegara secara ‘significan’ hendak dialihkan ke dalam negeri, bisa terjadi mislead, alias salah arah dan meleset dilihat dari sudut tujuan pariwisata. Kali ini saya berbincang dengan Ir Cecep Rukmana, tokoh dari Jawa Barat, pemimpin kelompok bisnis hotel Panghegar. Agak seru. Dia malah mementingkan agar pariwisata sungguh dijadikan kini sebagai leading sector, terutama menghadapi krisis. Memang di lain kesempatan, pakar pemasaran Hermawan Kertajaya, mewanti-wanti krisis ekonomi dewasa ini bisa berlangsung dua sampai tiga tahun. Dari luar negeri diingatkan oleh pakar pariwisata, kita jangan terjebak a lot of talk but no walk!

 

Mengapa jangan sampai mislead? Sebab, wisata domestik di negeri kita pada dasarnya bertumbuh alamiah. Tumbuhnya wisnus akan sejalan dengan tumbuhnya penghasilan masyarakat, dan tumbuhnya kebutuhan akan berlibur. Upaya ekstra tak perlu dipaksakan, sehingga tak perlu mengorbankan kegiatan dan anggaran dalam rangka pemasaran internasional.

 

Masalahnya di pemasaran internasional, jangan mengulangi lagi kesalahan lama, misalnya mengadakan promosi ke negeri yang secara pendekatan bisnis sebenarnya belum menjadi target riel. Contoh ekstrim antara lain dari pengalaman daerah Jawa Barat, yang mengirimkan rombongan besar berpromosi ke Afrika Selatan. Padahal, jangankan penerbangan langsung, penerbangan tidak langsung antara Afrika Selatan dan Indonesia, pun harus menempuh jarak dan rute yang berputar-putar. Membelanjakan biaya promosi besar-besaran ke sana jadinya tak masuk akal.

 

Tapi menurut pendapat Cecep Rukmana, mengalihkan sasaran ke wisnus secara pendekatan bisnis adalah praktis: sediakanlah sebanyak mungkin materi informasi yang bersifat petunjuk-petunjuk! Itu akan memudahkan warga ketika hendak dan sedang bepergian. Materi tersebut tentu saja berfungsi ganda, selain memudahkan dan memenuhi tuntutan bagi kebutuhan publik, sekaligus juga memotivasi masyarakat berlibur di dalam negeri. Bisa berupa materi cetak, juga melalui internet.

 

“Sediakanlah di tempat-tempat sumber datangnya wisnus, dan di tempat-tempat yang menjadi destinasi bagi wisnus,” kata Cecep Rukmana.

 

Dia sependapat pertumbuhan wisnus selama ini sebenarnya berjalan alamiah, namun kini diperlukan upaya untuk semakin meng-generate wisnus. Dalam hal itu pula para operator tur mestinya bisa berperan dan memanfaatkan peluang bisnis.

 

Kita juga memaklumi, mempromosikan destinasi dan kegiatan tur pada masyarakat dalam negeri, dewasa ini sudah amat hebat didukung oleh media, baik media cetak maupun elektronik. Tiada siaran televisi kini mengudara tanpa adanya siaran-siaran yang menarik dan menuntun warga untuk berwisata di dalam negeri. Hampir tiap hari.

 

Tapi para operatur tur juga harus merubah “paradigma”. Mereka harus memanfaatkan kemajuan tekonologi informasi.

 

Berbicara operator tur pada sektor wisman, dia menyayangkan kealpaan kita akan ’pendekatan bisnis’ dalam mengelola pariwisata. Sudah sejak lama terjadi perubahan-perubahan di Eropa, misalnya. Di sana agen-agen yang dulunya merupaka spesialis menjual produk wisata Indonesia, telah lama dibeli – diakuisisi – oleh agen-agen wholesaler yang lebih besar. Lalu para wholesaler ini mengalihkan fokus penjualan mereka ke destinasi lain seperti China, Vietnam, dll.

 

Kita tidak memperhatikan itu, sehingga tidak tampak langkah-langkah maupun kebijakan yang mengatasi problema tersebut, kata Cecep Rukmana.

 

Di hotelnya Panghegar Bandung, sampai sebelum 1998 sekitar 30 persen tamu datang dari mancanegara. Kini hampir 100 persen tamunya dari dalam negeri dan memberikan hasil yang bagus.

 

Kalau pun hendak meng-generate dan secara ekstra mengupayakan peningkatan wisnus, Cecep Rukmana menganjurkan MICE – meeting, incentive, convention, exhibition. Utamanya meeting dan program incentive.

 

Tanpa harus mengorbankan rencana promosi dan upaya untuk tetap meningkatkan jumlah wisman, Cecep Rukmana juga sependapat agar, kalaupun dilakukan ’pengalihan-pengalihan’, maka konsentrasi promosi di mancanegara diarahkan ke sasaran negeri-negeri asal airlines asing yang melakukan operasi ke Indonesia.

 

Sebagai dimaklumi, terdapat 37 airlines asing kini beroperasi ke Indonesia, dan sembilan maskapai nasional yang melakukan penerbangan ke mancanegara. Dan kita belum optimal memanfaatkan ketersediaan kapasitas angkut penumpang mereka untuk meng-generate lebih banyak jumlah wisman dari negeri masing-masing.===

 

5 Tanggapan ke “Wisata Domestik? Jangan Mislead!”

  1. iwan berkata

    Saya sangat setuju… bahwa menggalakkan wisnus tidak perlu dengan mengorbankan rencana promosi dan upaya untuk tetep meningkatkan wisman. Tapi meminta kepada Kepala Daerah untuk memperhatikan prasarana dan sarana di obyek wisata dalam negeri, mungkin perlu digaris bawahi..

  2. Lehmann berkata

    Setuju sekali menggalakkan wisnus tanpa mengorbankan peningkatan wisman, mengingat inbound tourism punya “keunggulan” di atas domestic tourism, inilah gambarannya:

    Dalam hal memperluas peluang usaha : domestic, yes; inbound, yes.
    Dalam hal memperluas peluang kerja : domestic, yes; inbound, yes.
    Dalam hal stimulasi kegiatan ekonomi: domestic, yes; inbound, yes.
    Dalam hal penghasilan devisa : domestic, NO; inbound, YES.

    Dampak domestic tourism ibarat memindahkan uang kita dari kantong yang satu ke kantong lain milik kita sendiri.
    Inbound tourism, memberikan tambahan “uang” dari kantong orang lain.

    Semoga sukses pariwisata.

  3. Noersal Samad berkata

    “Tapi para operatur tur juga harus merubah “paradigma”. Mereka harus memanfaatkan kemajuan tekonologi informasi.

    Berbicara operator tur pada sektor wisman, dia menyayangkan kealpaan kita akan ’pendekatan bisnis’ dalam mengelola pariwisata. Sudah sejak lama terjadi perubahan-perubahan di Eropa, misalnya. Di sana agen-agen yang dulunya merupaka spesialis menjual produk wisata Indonesia, telah lama dibeli – diakuisisi – oleh agen-agen wholesaler yang lebih besar. Lalu para wholesaler ini mengalihkan fokus penjualan mereka ke destinasi lain seperti China, Vietnam, dll.”

    Artikel ini perlu ditindak-lanjuti, tidak hanya sekadar tahu saja.

    Berbicara mengenai “informasi”, sudah lengkapkah informasi wisata kita untuk:

    (1) Sales Counter staff APW + BPW?
    (2) Tour planner BPW?
    (3) Tourist Guide kita?
    (4) Tour Leader kita?
    (5) Tour Travel Specialist Mancanegara?

    Informasi tersebut harus memenufi tiga persyaratan:

    1. Up-to-date/current
    2. Reliable
    3. Complete

    Kapan Indonesia mulai menyiapkan “INDONESIA SPECIALIST” asing?
    Seyogianya segera dibentuk TEAM (Together Everyone Achives More}penyusun
    bahan-bahan dan e-learning yang diperuntukkan bagi Indonesia Specialist
    asing.

    Begitu bahan elearning or ecourse tersusun – well integrated – langsung didaftarkan pada ASTA – American Society of Travel Agents – untuk ditawarkan
    ke seluruh dunia.

    Silakan lihat ===> http://www.asta.org/about/index.cfm?navItemNumber=502 dan
    http://www.asta.org/sitemap.cfm?navItemNumber=670

    Education / Careers
    • Becoming a Travel Agent
    o Travel Schools
    • Educational Programs
    o Travel Agent’s Management Toolkit
    o Jordan Specialist
    o Cuba Specialist
    o Family Specialist
    o Niche Specialist
    o Mature Adult Specialist
    o Marketing Specialist
    o Rail Specialist
    o USA Travel Expert
    • Virtual Seminars
    • Salary Tool
    • Scholarships

    Kita akan mendapat manfaat ganda. Travel Bureau Asing menjadi kompeten menjual
    produk wisata kita. Kita mempunyai bahan promosi andal – scientifically -.
    Dan tentu saja BPW kita harus lebih andal – competent enough at least – dari pada pihak Indonesia Specialist asing.

    Kemampuan dan jumlah BPW kita yang kompetensinya sejajar dengan
    Amexco, JTB, Thos Cook and Sons, ditingkatkan terus menerus – sustainable competency development of our Travel and Tour Operators .

    Terima kasih

  4. Tuti Sunario berkata

    Mengantisipasi dampak Krisis Ekonomi Global di Indoneia yang diperkirakan Menteri Mulyani akan terimbas paro tahun 2009, tidak ada pilihan lain bagi Indonesia kecuali lebih menggiatkan produk dalam negeri. Dalam hal Pariwisata, menggiatkan Pariwisata Domestik atau Wisnus.

    Bila sampai sekarang Wisnus hanya dibiarkan berkembang secara alami – NB menurut Budpar sudah ada 215 juta wisnus – tanpa adanya penelitian, rencana apalagi program terpadu yang baik, maka momentum untuk lebih menggiatkan pariwisata domestik ini akan hilang. Karena justru negara-negara tetangga dan airline asing sudah memfokuskan pasar potensial mereka ke Indonesia, dan semakin banyak orang Indonesia akan ke luar negeri, karena paket terjamin dan biaya lebih murah.

    Karena itu Daerah-daerah perlu dibantu dengan mempersiapkan sarana dan prasarana, bukan saja untuk menarik wisman tapi justru wisnus, juga demi kepentingan ekonomi daerah – PAD, Pendapatan Asli Daerah – maupun mengurangi pengangguran.

    Sebagai pembanding, untuk antisipasi dampak Krisis ekonomi global serta dampak krisis politik, Thailand menganggarkan US$ 10 juta dengan rencana dan program yang jitu.

    Kita angkat jempol bagi Jakarta Raya yang dalam rencana 2009 bertekad sebagai prioritas meningkatkan Wisnus (sudah termasuk program) sambil mempertahankan pangsa pasar pariwisata internasional.

  5. A.A.Gede Dharma berkata

    Kami orang Bali yang menjunjung kebudayaan, kususnya di Bali sangat berharap sekali untuk mendatangkan touris Domestik.Kami siap mengantar keliling Bali untuk berwisata budaya dan siap memberikan informasi tentang budaya Bali yang sebenarnya. Hp 081236010765 /www.balicheapholiday.com

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>