…………Travel Tourism Indonesia…TTIspot

. . . . . . . . . . Mari kita monitor denyut nadi pariwisata. Lihat PILIH KATEGORI.

Ini dia, Tur Spesifik ke Pekalongan

Ditulis oleh Arifin Hutabarat di/pada 7 Mei, 2009

Wisata nusantara tak lagi sekedar dibiarkan bertumbuh alamiah. Secara professional

Hardyanto

Hardyanto

komersial kini bisa dibangkitkan, dan dinikmati. Baru saja misalnya diperkenalkan tur “Semalam di Pekalongan”, spesifiknya tentu melihat pusat batik, belajar praktek membatik, membeli langsung di pabriknya, melihat museum batik, makanan seafood yang tak diragukan kesegarannya. Dan semakin spesifik, dengan naik keretapi wisata dari Jakarta, yang memang disediakan lengkap dengan fasilitas karaoke sehingga perjalanan lima jam menjadikan gerbong wisata itu tempat reuni atau arisan atau perkenalan baru, tak membosankan jadinya. “Kami sedang kerja keras memasarkan produk ini,” berkata Hardyanto Hasono, direktur salah satu travel agent anggota konsorsium yang mengemas produk ini.

Gerakan itu sangat patut direspons. Depbudpar mendukung sedari awal. Kendati belum menyaksikan sendiri, saya diceritakan oleh Hardyanto Hasono dalam bincang-bincang kita kali ini.

Konsorsium beranggotakan sembilan travel agent di Jakarta telah mengemas dan memasarkannya. Rombongan pertama akan berangkat tanggal 30 Mei 2009. Berangkat Sabtu pagi dari stasiun keretapi Gambir Jakarta jam 07.15. Tiba di Pekalongan jam 12an. Maka mulailah tur Pekalongan. Satu rombongan minimal 22 orang, itulah jumlah seat di gerbong keretapi wisata.

Dijemput setiba di stasion, dengan bus wisata berkeliling Pekalongan. Makan siang, lalu meninjau museum, kemudian ke pusat pembatikan. Di sana anda berkesempatan membatik sendiri di sehelai kain selebar sapu tangan. Tentu saja dipandu oleh guru pengajar membatik. Hasil “belajar” anda menjadi milik anda dan silahkan membawanya pulang.

Dengan suasana gembira sedemikian, kemudian meninjau proses-proses pembuatan batik, lalu ke tempat berbelanja batik, dimana kita akan menemukan pilihan mulai dari yang Rp 50 ribu sampai yang Rp 3 juta. Kelas paling atas itu tentulah di tempat dengan merek  seperti batik Iwan Tirta, bahan sutera, hand made, dan sampai ke bahan dan kemeja batik harga Rp 50 ribu. Jadi, segmentasinya lengkap.

Makan siang dan malam di Pekalongan apalagi kalau bukan seafood. Namun makan pagi atau makan malam di atas kereta, disediakan empat macam menu: A, B, C, D. Jadi, pilihan pun ada beragam.

Ketika pulang hari Minggu esoknya, dari stasion keretapi Pekalongan berangkat jam 17.15 tiba di stasion Gambir Jakarta pukul 22.15. Maka anda telah menikmati tur spesifik “Semalam di Pekalongan”.

Mahalnya tiket KA

Retnoningsih, staf pemasaran PT Keretapi Indonesia DAOP Jakarta, menceritakan, sudah lama disediakan tiga gerbong wisata, dinamakan gerbong Nusantara, Bali, dan Toraja. Siapa saja bisa menggunakannya, dengan cara sewa satu gerbong ke tujuan mana saja. Nah, untuk tujuan Jakarta-Pekalongan, misalnya, sewa gerbong itu Rp 13.500.000 dengan kapasitas 22 tempat duduk. Kalau tujuan Jakarta-Yogyakarta, harganya Rp 15.500.000,-. Gerbong kereta wisata itu sebenarnya disambungkan saja pada rangkaian keretapi reguler. Efisien, bukan?

Tetapi, per orang harga tiketnya menjadi sekitar Rp 620.000 untuk rute Jakarta-Pekalongan. Pergi pulang menjadi Rp 1.240.000,-. Sementara itu kalau menggunakan gerbong kelas eksekutif kereta reguler, satu tiket one way pada hari akhir pekan Sabtu dan Minggu, hanyalah sekitar Rp 225.000.-.

Nah, Hardyanto Hasono mengaku harga paket “Semalam di Pekalongan” tidaklah murah. Paket tersebut dijual dengan harga Rp 2.750.000 per orang. Memang, sudah termasuk dua kali makan pagi, dua kali makan siang dan dua kali makan malam, menginap satu malam di hotel di Pekalongan, serta seluruh transportasi dan biaya-biaya tur selama dua hari di kota batik itu.

Anda bisa juga memilih gerbong keretapi reguler kelas eksekutif untuk mengikuti tur ini, sehingga harga paket per orang menjadi Rp 1.475.000,-.

Sebenarnya, model paket “Semalam di Pekalongan” dan cara mengemas serta memasarkannya, tampak bisa diterapkan juga pada berbagai kota dan tempat-tempat wisata domestik dengan menggunakan keretapi wisata. Konsorsium yang bernama Kowindo, menurut Hardyanto Hasono, didukung oleh Depbudpar dengan mencetakkan brosure untuk mempromosikan wisnus ini. Saat ini mereka bahkan telah menyebarluaskan informasi itu ke seantero tanah air.

“Kami percaya agen-agen di luar pulau Jawa, di Aceh pun, misalnya, akan bisa menjual, karena tentulah ada saja di antara anggota masyarakat Indonesia di daerah yang ingin melihat objek wisata khas pembatikan ini,” ujarnya.

Dan Retnoningsih mengatakan, kereta wisata itu setiap bulan ada saja yang menyewa, bertujuan Cirebon, Surabaya, Semarang, Yogya. Tidak disebutkan frekuensinya.

Tetapi, ada juga kekawatiran. Harga Rp 2.750.000 disebutkan di atas, bahkan yang Rp 1.475.000, untuk tur satu malam dari Jakarta ke Pekalongan, akan disaingi dengan kesempatan tur ke Bali pada harga yang sama, dan bisa tinggal dua sampai tiga malam. Maklumlah, Bali masih saja primadonna, bukan?

Maka kalau dari sudut strategi pengembangan wissata domestik, pengemasan dan pemasaran paket semacam “Semalam di Pekalongan” ini berpotensi meng-generate wisnus secara professional komersial, masalahnya jelas terletak pada penetapan harga tiket keretapi yang tampaknya berlebihan. Andaikan tiket kereta wisata itu tak lebih dari dua kali lipat dari harga tiket kereta reguler kelas eksekutif, maka faktor harga paket pun akan berpeluang berperan meningkatkan volume penjualan. Baik volume penjualan bagi unsur transportasi keretapi, bagi operator tur, dan bagi restoran sampai pabrik-pabrik batik di Pekalongan mulai segmen bawah hingga teratas.

Tapi, yah, bilamana ada waktu, cobalah anda menikmatinya terlebih dulu.

Satu Tanggapan ke “Ini dia, Tur Spesifik ke Pekalongan”

  1. Benno Karamoy berkata

    Dari segi inovasi/pengembangan jenis Paket Tour Domestik, Paket Tour Semalam di Pekalongan memang menarik dan unik. Soal harga memang kembali kepada segmen pasar wisatawan domestik yang mana yang akan dituju. Sehingga masih perlu diuji apakah “salable / marketable” atau tidak?

    Pak Hardiyanto dan KOWINDO nya memang dikenal cukup gigih menciptakan dan memasarkan Paket-paket Nusantara (Domestik). Tapi lagi-lagi biaya charter Kereta Api itu rasanya masih terlalu mahal. Untuk harga per orang bisa setara dengan biaya bila naik Pesawat Terbang, yang tentunya jauh menghemat waktu tempuh dan lebih nyaman (andaikan ke Pekalongan sudah ada penerbangan reguler). Ini tantangan buat PT KAI untuk bisa mengemas harga KA charter lebih murah lagi agar bisa bersaing dengan tiket pesawat. Bukan hanya ke Pekalongan, tapi kemanapun Obyek Wisata yang bisa dijangkau dengan Kereta Api. Semoga….

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>