Bagaimana Mencipta Paket Tur Pekalongan
Ditulis oleh Arifin Hutabarat di/pada 9 Mei, 2009
Bermula pemerintah kabupaten dan kota di Pekalongan melakukan pendekatan ke Depbudpar khususnya Ditjen

Membatik? Cobalah praktek dengan enjoy
Pemasaran. Bagaimana agar bisa dibuatkan program tur ke kota batik itu? Agar “ikon” batik bisa menarik penggemarnya, bahkan golongan masyarakat yang fanatik akan batik, dari manapun, ditarik untuk berkunjung. Selain memenuhi kepuasan sendiri, tentu akan membawa tambahan penghasilan ekonomi masyarakat. Maka singkat cerita, Depbudpar menyelenggarakan di awal April yll satu familiarization trip. Pertanyan pertama pariwisata, apakah aksesibilitas alias moda transportasi? Ya, keretapi! Karena lalu lintas udara praktis tidak ada.
Diajaklah PT Keretapi Indonesia bekerja sama. Gayung bersambut. PT KAI sendiri sebenarnya sejak tahun 1994 telah memiliki sarana keretapi wisata, yakni beberapa gerbong yang disiapkan untuk tujuan itu. Sedikitnya tiga gerbong masing-masing dinamai Nusantara, Bali dan Toraja. Tetapi lebih sepuluh tahun sudah gerbong-gerbong wisata itu dimanfaatkan hanyalah sewaktu-waktu belaka, oleh adanya rombongan-rombongan kenegaraan, atau disewa oleh kelompok-kelompok yang amat khusus, antara lain rombongan artis selebriti untuk tur ke daerah.
Gerbong-gerbong wisata itu tampaknya menjadi ‘idle capacity’, atau ‘under utilized capacity’.
Dengan pendekatan dari Depbudpar didorong oleh permaintan pemkab dan kotamadya Pekalongan, datang satu pertanyaan lagi. Siapa yang akan melaksanakan tur penggemar batik ke Pekalongan bilamana memang gagasan itu “salesable”? Karena pemerintah bukanlah pelaku bisnis, bukan? Ada Kowindo, Konsorsium sepuluh travel agent, yang sebenarnya telah berdiri sejak November 2007. Yang aktif sembilan perusahan.
“Kami meman g memfokuskan diri ingin menjual wisata domestik. Kapan lagi dan siapa lagi kalau bukan kita tidak memulainya?” begitulah latar belakang konsorsium itu, diceritakan oleh Hardyanto Hasono, direktur HSL Wisata, salah satu anggota konsorsium.
Setelah konsorsium ini mengikuti fam trip tadi, dan didorong oleh Dirjen Pemasaran Pariwisata Sapta Nirwandar beserta Dirjen Pengembangan Desinasi Firmansyah Rahim, konsorsium pun menciptakan paket tur berjudul “Semalam di Pekalongan”. Juga, paket akhir pekan ke Pekalongan. Intinya, naik keretapi wisata dari Jakarta ke Pekalongan pp. Satu malam menginap. Dua hari tur di kota itu. Fokus tentu menawarkan pengalaman menarik dan mengesankan berkaitan dengan kegiatan batik membatik, pengetahuan batik, praktek belajar membatik, selain makan masakan Pekalongan.
Depbudpar berjanji memfasilitasi. Antara lain akan mencetakkan brosur untuk mempromosikan paket wisata itu.
“Tapi sejak awal Mei ini, kami dari konsorsium sendiri sudah berinisiatif menyebarluaskan informasi paket ini. Ke seluruh daerah di Indonesia, terutama melalui semua travel agent. Keuntungan dari setiap paket itu relative kecil, maka promosi yang terjangkau dilakukan melalui email.” Begitulah diceritakan oleh Hardyanto Hasono. Sambil menunggu terbitnya brosur yang difasilitasi oleh Depbudpar.
Sembilan travel agent anggota konsorsium Kowindo yang aktif terdiri dari: HSL Wisata, Marine Tour, Pesona Cakrawala, Palawi Tour, Kopen Travel, Flying Tour, B-Travel, Kencana Tour dan Nuansa Tour. Maka kepada konsorsium ini pun patut diberikan salut.
Seperti kita catat sebelumnya, model paket dengan keretapi wisata ini berpotensi di-copy untuk kota-kota dan kawasan yang tidak memiliki aksesibilitas penerbangan komersial yang memadai, namun dilayani oleh jaringan keretapi dan memiliki objek-objek wisata spesifik. Sebutlah lainnya seperti Cirebon untuk Jakarta, Solo untuk Surabaya.
Dari perspektif pasar konsumen dapat dilihat, ratusan sampai ribuan orang penggemar batik setiap bulan berpotensi dan berkesempatan untuk menikmati tur ke Pekalongan dengan ‘overland tour’ keretapi wisata semacam ini. Mereka memang bisa datang dari propinsi-propinsi lain di bagian Barat Indonesia melalui Jakarta. Sebagaimana Hardyanto Hasono bilang, dari Aceh pun kami mengharapkan konsumen. Ya, why not?
Menguji program “Semalam di Pekalongan” dari metode marketing mix, fakta ini bicara. Product, tampak salesable lantaran memang spesifik dengan sasaran konsumen spesifik. Place untuk distribution, potensinya besar di berbagai propinsi.Promotion, sudah dijalankan dan akan dibantu materi promosi dari biaya pemerintah. Price, ini tampaknya yang masih memerlukan penyesuaian. Kalau tidak, kemungkinan besar akan menjadi kendala terhadap upaya membesarkan volume bisnis ini, atau menghalangi lebih banyak orang melaksanakan keinginan berwisata nusantara ke Pekalongan.(Lihat newsstory lain berjudul: Ini dia, Tour Spesifik ke Perkalongan).

NewsStory terbaru ?














turut mensponsori Blogspot ini. Kami sangat menghargai semangat yang terkandung dalam sponsorship Depbudpar. Mari kita bicarakan, kita inspirasi, dan mendorong meningkatnya kegiatan bisnis kepariwisataan. Agar meluaskan peluang usaha, kesempatan kerja, dan penerimaan devisa berorientasi kesejahteraan bangsa. Bersama memajukan pariwisata, Indonesia Bisa !
____________________






___________________
_____________________
_______________________
sekitar 13 juta kini dilanda gizi buruk di negeri ini.
_____________________
Ricky Pratama berkata
assalaamualaikum
Saya Ricky, baru saja melihat dialog Visit Indonesia di Metro TV, bagus banget konsepnya… tapi sayang sekali, saya tidak menemukan tentang brosure paket wisata yang ada di TV tersebut, seperti dengan kereta api ke Pekalongan satu hari satu malam atau yang lainnya… :>
bagaimana cara melihat brosure paket wisata tersebut, karena ketika saya buka di link “Tourism package” hanya ada beberapa saja dan yang lainnya hanya seperti iklan saja…
mohon kerjasamanya
Ricky Pratama
+6285624005005