…………Travel Tourism Indonesia…TTIspot

. . . . . . . . . . Mari kita monitor denyut nadi pariwisata. Lihat PILIH KATEGORI.

Penyebaran Wisman Cara Bottom Up

Ditulis oleh Arifin Hutabarat di/pada 24 Mei, 2009

Peluang Kota Kabupaten dan Kotamadya

Hotel di Padang

Hotel di Padang

Kota-kota seperti Padang, Pekanbaru, Banda Aceh, Pontianak, sampai Tarakan dan Tanjung Selor, antara lain, kini tampak sekali bisa menerapkan upaya penyebaran kunjungan wisman sehingga tidak terfokus hanya ke Bali dan pulau Jawa. Kota kabupaten dan kotamadya yang punya aksesibilitas transportasi langsung, kini berpotensi menjalankan metode bottom up di bidang pengembangan destinasi dan pemasaran pariwisata. Pemerintah pusat tinggal mengadopsi strategi baru yang mendukung sehingga meningkatkan hasil atas strategi top down yang banyak dijalankan.

Mengangkat newsstory tentang tur ke Bangka, ke Pekalongan, terakhir kita tulis ke Tarakan di Kaltim, kita sebenarnya dibawa pada satu pesan kemungkinan cara menyebarkan kunjungan wisman melalui program bottom up, dari daerah kecil lalu didukung oleh daerah lebih besar hingga akhirnya didukung oleh pemerintah pusat.

Main stream arus kunjungan wisman selama ini cenderung dari upaya top down, yaitu program  promosi pemasaran dan pengembangan destinasi yang dirancang dari pemerintah pusat, lalu diikuti oleh pemerintah dan industri di  destinasi utama. Maka dengan program itu Indonesia hadir selalu di event besar mulai ITB Berlin, WTM London, MATTA, ATF, dan lain-lain. Hasilnya  tentulah  pada main stream pula, mulai Bali, Yogyakarta, belakangan Manado, dan seterusnya.

Penyebaran kunjungan wisman ke berbagai daerah lain, ternyata terbuka peluangnya dengan kian ekstensifnya aksesibilitas ke dari kawasan Negara tetangga terdekat, ya udara, ya laut. Dan berbicara hal penyebaran wisman di luar main destination, sesungguhnya kita juga berbicara niche market, karena ternyata, daerah-daerah kecil yang belum tersentuh pengembangan destinasi dan pemasaran pariwisata, kini membuka kesempatan sendiri untuk menghimpun kunjungan wisman, kendati masing-masing daerah akan berhitung sekedar beberapa ribu kunjungan wisman dalam setahun. Jadi, tidak perlu mengharap ratusan ribu atau jutaan seperti di Bali dan destinasi di pulau Jawa.

Ada satu indikator mutakhir, di tengah imbas krisis global saat ini, misalnya, yang baik diperhitungkan. Maskapai penerbangan mengaku, musim libur long weekend yll di Pekanbaru mengalami peningkatan jumlah penumpang 20 persen. Ini mencerminkan pula, dari manakah penumpang itu, kalau bukan dari Negara jiran? Selain dari domestik.

Di pulau Bangka, gambarannya boleh jadi ekstrim. Pengembangan destinasi di situ dimulai oleh pengusaha swasta yang sudah relative besar. Dibangunnya kawasan objek wisata lengkap dari hotel berbintang hingga berbagai pendukungnya. Frekuensi penerbangan ke sana kemudian mendukung. Tur domestic ke sana abertumbuh, kini tinggal mendorong kalau ada airlines yang menghubungkan Pangkal Pinang dengan Singapura atau Kuala Lumpur.

Tur “batik” ke Pekalongan, yang diciptakan baru saja dua bulan yll., dimulai dari gagasan yang hampir tak sengaja datang dari Ditjen Pemasaran dan Pengembangan Destinasi Depbudpar. Industri di Jakarta kemudian mengartikualasikan ke dalam aktivitas bisnis. Segala sesuatu yang berkaitan batik, sangatlah patut dijual oleh Pekalongan. Idee pertamanya, timbul dari pemerintah setempat. Kalau tur ini kemudian dengan itinerary dan harga yang menarik, disebarluaskan, bukankah berpotensi diminati oleh wisman dari Negara tetangga, yang masuk ke Indonesia melalui penerbangan ke Jakarta?

Nah, ke Tarakan di Kalimanatan Timur? Mengapa? Ini contoh ekstrim dari sisi lain. Kita menemukan pemerintah kotanya yang konsisten mengadakan turnamen tennis internasional, sudah enam tahun berturut-turut. Diikuti petenis-petenis perempuan dari belasan Negara, bahkan sampai ke balik dunia dari Brazilia sana. Pemerintah kotanya menyediakan hadiah total US$ 10 ribu saja. Tahun ini, kabupaten Bulungan tetangganya, menarik para petennis itu dengan menciptakan turnamen serupa di Tanjung Selor, ibukotanya, bahkan dengan menaikkan total hadiah menjadi US$ 25 ribu.

Lalu? Pemkot Tarakan lalu menambah turnamen baru, yaitu Men’s Circuit, akan diadakan mulai bulan Agustus 2009 ini, dengan hadiah total US$ 10 ribu juga. Tetapi, untuk tahun depan, dinyatakan, akan dinaikkan pula menjadi US$ 25 ribu, tak ingin kalah rupanya dari kabupaten tetangganya.

Bukankah ini bisa diangkat sebagai semangat, yang, dengan metode bottom up, sektor pariwisata bisa memanfaatkan semangat seperti ini, untuk diartikulasikan menjadi kegiatan mendukung upaya penyebaran kunjungan wisman di Indonesia?

Sektor pariwisata memanfaatkannya

Gejala penciptaan event, dari tingkat pemerintahan di bawah seperti ini, dengan potensi mendatangkan wisman, itulah yang tampaknya belum dimanfaatkan oleh pariwisata. Di Tarakan, misalnya, terdapat Bekantan, jenis serupa orang utan, yang hanya berhabitat di kawasan itu. Ada kawasan sanctuary dimana mangrove dikonservasi, dan menurut data, Bekantan diperkirakan tinggal 40 ekor. Tapi antara dinas pariwisata dan dinas kehutanan setempat, belum tercapai kerjasama yang baik untuk memanfaatkannya. Turis yang ingin melihat para Bekantan, seringkali kecewa lantaran tak menjumpai “mereka” dihabitatnya di tengah kawasan mangrove, yang issue mangrove sendiri juga menarik bagi orang-orang yang berminat khusus.

“Para turis selalu kami beritahukan terlebih dulu, tolong jangan kecewa kalau tak berjumpa Bekantan. Mereka biasanya muncul sekitar jam 8 pagi untuk makan. Tapi tidak pasti,”, begitulah petugas Dinas Pariwisata setempat menceritakan. Sebenarnya, seperti orang utan di kawasan Leuser di Sumatra Utara, pelaksana konservasi mestinya dapat mengatur jadual-jadual sehingga kedatangan Bekantan ke pondok penyediaan makanan akan lebih mempermudah pengunjung dapat menyaksikan binatang langka itu. Turis tak akan kecewa, karena di setiap brosur pariwisata, konservasi mangrove dan Bekantan selalu ditampilkan sebagai daya tarik.

Jadi, kalau dengan event-event internasional akan bisa diperoleh kesempatan promosi daerah kecil di mancanegara melalui berita-berita dan tulisan, maka objek-objek wisata “minat khusus” pun mestinya dapat membonceng. Kenyataannya, telah sekian ratus orang wisman datang ke kota kecil Tarakan.

Merujuk event Tour de Singkarak baru-baru ini, itu merupakan pengalaman ‘besar’ pula, di mana pariwisata tampak memanfaatkan event olahraga yang diselenggarakan oleh pemerintah lokal. Didukung dengan peran top down yang dijalankan oleh Depbudpar. Pertanyaan memang menggelitik, apakah event tersebut konsisten diselenggarakan setiap tahun, seperti Women’s Tennis Circuit yang dilakukan oleh pemkot Tarakan? Dan apakah industri pariwisata melanjutkan menggarap pasar dari negeri asal para peserta lomba sepeda internasional itu, dengan konsisten pula?

Pola pengembangan dengan cara bottom up dimaksudkan ini, terbuka pada kota-kota yang kini telah diakses oleh penerbangan, sebutlah AirAsia yang menghubungkan setiap hari kota-kota mulai dari Palembang, Pekanbaru, Padang, Banda Aceh, dan airlines lain yang menghubungkan Balikpapan, Pontianak, dengan kota-kota Singapura, Kuala Lumpur, Johor Bahru. Jika tiap kota itu berhasil menarik masing-masing sekian ribu saja wisman melalui pasar Negara jiran terdekat, bukankah akumulatif akan menjadi puluhan sampai ratusan ribu wisman? Dan dengan sendirinya tersebar ke berbagai daerah? ==

Satu Tanggapan ke “Penyebaran Wisman Cara Bottom Up”

  1. Benno Karamoy berkata

    Setuju, penyebaran wisman dengan cara ini (penyebaran obyek wisata) dan perlu didukung oleh Pemerintah Pusat untuk promosi ke luar negeri. Indonesia memang sangat luas dan sangat kaya akan obyek wisata yang perlu dikelola/dikemas dengan baik. Perlu diingat, akses transportasi (kombinasi udara/laut/darat) harus betul-2 tersedia dan dijaga regularitas.

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>