Wisatawan “Excited” Melihat Orangutan
Posted by Arifin Hutabarat pada 7 Juni, 2009
Danau Toba kian gawat?
Mengetahui susahnya bagi turis “berjumpa” menyaksikan Bekantan, spesies mirip orang utan di Tarakan, Kalimantan Timur, maka

Robert Lam
pimpinan sebuah operator tur di Sumatra Utara, Robert Lam menceritakan justru para turis saat mengunjungi hutan konservasi di Bohorok, Sumatra Utara, merasa sangat ‘asyik’ alias “excited” menyaksikan orangutan bukan di tempat karantina untuk makan. Saat kelompok orangutan tampak bebas bergerak di kehidupan hutan, rombongan wisatawan merasa puas dan gembira. Setiap kunjungan kelompok wisman dan wisnus, menurut Robert Lam, CEO Horas Tours berkedudukan di Medan, biasanya dalam jumlah kurang lebih 20 orang.
“Ya, hampir selalu berjumpa dengan orangutan setiap kali ada kelompok turis yang berkunjung ke sana,” kata Robert Lam. Horas Tours yang kini dipimpinnya merupakan salah satu operator tur di Medan yang puluhan tahun ini konsisten bertahan pada usaha mendatangkan wisman dan wisnus ke Sumatra Utara.
Kawasan di kaki gunung Leuser tempat habitat orangutan tersebut, pernah puluhan tahun menjadi salah satu ikon pariwisata daerah Sumatra Utara. Tetapi belakangan ini terasa kurang dipasarkan kembali, setelah terliwati puncak krisis multi dimensi menjelang tahun 2000. Jumlah wisman yang masuk melalui bandara Polonia Medan dewasa ini masih jauh di bawah jumlah tertinggi yang pernah dicapai yaitu sekitar 150 ribu setahun.
Provinsi Sumatra Utara sebagai destinasi di masa lalu menonjolkan uniknya Bohorok untuk menyaksikan orangutan, disamping Danau Toba yang indah dengan kebudayaan Batak yang interesting bagi telinga orang asing manakala mendengarkannya saat diceritakan. Atau ketika mereka membacanya di brosure atau artikel tentang Batak-thribe.
Kendati sebagian besar wisman dan wisnus sebenarnya bertujuan Danau Toba dalam membeli paket tur ke Sumatra Utara, namun keberadaan dan story tentang orangutan dan habitatnya di Bohorok itu, merupakan asset yang berperan membentuk citra Sumatra Utara dan persepsi pada publik sebagai destinasi yang “exciting’ disamping layak dikunjungi.
Paling banyak wisman ke Sumatra Utara memang biasanya datang dari jiran Malaysia dan Singapura, sementara itu wisman dari Belanda, Jerman, dan Negara Eropa lain, bahkan dari Amerika Serikat, kian meningkat jumlahnya tahun demi tahun. Lalu terhempas oleh krisis tahun 1998 dan seterusnya, kemudian jumlah wisman ke Sumatra anjlog, dan, lamban sekali bangkitnya. Setelah itu maka pemeliharaan destinasi di Danau Toba dan sekitarnya, serta promosi Bohorok, mengalami penurunan yang hebat.
Sejak awal tahun 2009 ini, Arifin Pasaribu, professional di bidang pariwisata, terakhir jabatannya adalah direktur kantor promosi pariwisata Indoneaia di London, Inggris, bersama beberapa tokoh lain berupaya hendak menggalang kegiatan untuk “membicarakan dengan serius” ketertinggalan pariwisata Sumatra Utara dewasa ini. Hendak mengadakan suatu seminar berbobot untuk melakukan sesuatu bagi perbaikan Danau Toba sebagai destinasi pariwisata.
“Danau Toba keadaannya sudah sangat mengganggu bagi kunjungan wisatawan, dan, hutan di sekelilingnya digunduli terus,” begitulah Arifin Pasaribu antara lain mengungkapkan situasi tersebut.
Tidak heran seminggu yang lalu diberitakan telah muncul sekelompok aktivis orang muda yang menggelar gerakan “Selamatkan Danau Toba”.
Sebulan yang lalu saya juga dapat kabar dari Henry Hutabarat, salah satu tokoh pariwisata di Medan, bahwa di kota itu suatu organisasi atau perusahaan sedang dibentuk oleh delapan orang swasta, yang bermaksud hendak menjalankan kegiatan promosi pariwisata Sumatra Utara.
Dan, dalam percakapan kita minggu lalu, Robert Lam mengatakan : “Sebenarnya sudah bagus belakangan ini pihak airlines membuka banyak penerbangan ke Negara tetangga,”.
Pemikiran dan gerakan-gerakan itu tampak memerlukan response, dari siapa? Ya, dari kita-kita. Dan pertimbangkanlah sebagai wisnus next time go to see orangutan!==

NewsStory terbaru ?





suhadinet berkata
ya..orang utan memang menarik.