Ekonomi Pariwisata, Sektor atau Sub-sektor…
Ditulis oleh Arifin Hutabarat di/pada 13 Juni, 2009
Berpotensi lebih 10 persen terhadap PDB

Tim Care Tourism dan Sekjen Depbudpar. (Dari kiri ke kanan) Arifin Hutabarat, Sunarjo, Wuryastuti Sunario (Ketua Care Tourism), Wardiyatmo (Sekjen Depbudpar), Cri Murthi, Sani Sumakno, dan Saleh Tjakraamidjaja.
Kegiatan pariwisata sungguh memberi peranan berarti terhadap keseluruhan kinerja perekonomian Indonesia. Tahun 2007 menunjukkan dampaknya berupa nilai produksi total Rp 362,10 triliun, yang berarti 4,62 persen dari total produksi nasional Rp 7.840,57 trilliun. Menghasilkan nilai tambah sektoral Rp 169,67 triliun atau 4,29 persen dari PDB Indonesia yang bernilai Rp 3.957,40 trilliun. Mempekerjakan 5,22 juta orang sama dengan 5,22 persen dari lapangan kerja nasional yang 99,93 juta orang. Upah dan Gaji dihasilkan berjumlah Rp 53,88 trilliun sama dengan 4,43 persen dari total upah nasional yang berjumlah Rp 1.216,83 trilliun. Atau menghasilkan pajak Rp 6,31 trilliun yang berarti 4,09 persen dari total penerimaan pajak nasional Rp 154,31 trilliun.
Wardiyatmo, Sekjen Depbudpar, menguraikan gambaran tersebut ketika bertemudengan Care Tourism – LSM Peduli Pariwisata, baru-baru ini di kantornya. Care Tourism yang saat ini diketuai oleh Wuryastuti Sunario, pada kesempatan itu memberikan catatan dan pandangan atas isi beberapa pasal dari UU No. 10 tahun 2009 tentang Kepariwisataan.
Pariwisata, yang di Indonesia kini diakui sebagai satu disiplin ilmu tersendiri, sebagaimana diuraikan oleh Wardiyatmo, dalam perekonomian Indonesia terukur dalam indikator ekonomi, kendati unsur-unsur yang dihitung sebagai kegiatan ekonomi pariwisata masih terbatas pada kegiatan hotel, restoran, rekreasi dan hiburan. Berdasarkan itu statistik indikator ekonomi menunjukkan porsi PDB Pariwisata terhadap PDB Nasional, pertumbuhan ekonomi pariwisata terhadap pertumbuhan PDB Nasional, dan kontribusi PDB Pariwisata terhadap PDB Nasional.
Porsi kegiatan pariwisata Indonesia dalam ukuran ekonomi makro, semakin menunjukkan pula, betapa pariwisata di Indonesia sungguh perlu dibangun dan dikembangkan secara sistemik. Dalam posisi penghasilan devisa nasional, pariwisata tahun 2008 menempati tingkat ketiga setelah minyak dan gas bumi, kelapa sawit; tahun 2007 posisi kelima setelah minyak dan gas bumi, minyak kelapa sawit, karet olahan dan pakaian jadi. Tahun 2006 posisinya berada di tingkat keenam. Trend tersebut, yang tampak bergerak dalam pola yang sama hampir dua dasawarsa ini,— memperlihatkan porsi pariwisata, selain daya tahan terhadap ekonomi yang bisa diandalkan, sekaligus mencerminkan potensi yang masih memerlukan optimalisasi pembangunan dan pengembangan pariwisata Indonesia.
Sehubungan itulah, Wardiyatmo menggambarkan, “Rencana Pembangunan Jangka Menengah – RPJM – Nasional tahun 2004-2009 sudah tepat,” kata dia. Di dalam RPJM itu pariwisata dimasukkan dalam Bab Pengembangan Ekspor dan Investasi. Maka Departemen Kebudayaan dan Pariwisata berperan di dalam badan koordinasi yang dibentuk pemerintah, disebut sebagai Tim PEPI – Peningkatan Ekspor dan Peningkatan Investasi.
Dalam rangka peningkatan ekspor, termasuklah pariwisata sebagai ekspor jasa dan peningkatan investasi.
Dari gambaran yang diuraikan oleh Sekjen Depbudpar, terbersit kembali satu pertanyaan, walaupun tidak saya ajukan pada pertemuan tersebut. Apakah kegiatan pariwisata sudah bisa terkategori sebagai satu sektor kegiatan ekonomi di Indonesia? Di antara sektor-sektor pertanian, pertambangan, perdagangan, infratsruktur, jasa, dst? Dan bukan lagi sebagai salah satu sub-sektor kegiatan ekonomi? Dan sejauh mana implikasi selanjutnya dari kategorisasi tersebut?
Realitas dari sudut kelembagaan dan organisatoris, tampaknya, selama ini departemen kebudayaan dan pariwisata berada di bawah koordinasi Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat – Menko Kesra, dan bukan di bawah Menteri Koordinator Perekonomian – Menko Perekonomian.
Jumlah wisman per tahun ke Indonesia masih berkisar enam jutaan, telah menghasilkan rata-rata porsi lima persen pada PDB Nasional. Padahal, secara komparatif, Indonesia bisa melebihi apa yang dicapai negara tetangga, yaitu jumlah dua kali lipat dari apa yang dicapai sekarang. Malaysia, Muangthai sudah berbicara jumlah 20 juta wisman per tahun. Jadi, terindikasi kuat potensi porsi ekonomi pariwisata Indonesia bisa jauh melebihi 10 persen terhadap PDB Nasional.
Seberapa jauh porsi kegiatan pariwisata membawa dampak di tengah kegiatan ekonomi keseluruhan ? Tahun 2007 terukur sebagai berikut:

Kinerja ekonomi pariwisata berdasarkan indikator ekonomi tahun 2001-2008 diperlihatkan oleh Sekjen Depbudpar, sebagai berikut:

Sumber: Badan Pusat Statistik. *Angka Sementara **Sangat sementara

NewsStory terbaru ?














turut mensponsori Blogspot ini. Kami sangat menghargai semangat yang terkandung dalam sponsorship Depbudpar. Mari kita bicarakan, kita inspirasi, dan mendorong meningkatnya kegiatan bisnis kepariwisataan. Agar meluaskan peluang usaha, kesempatan kerja, dan penerimaan devisa berorientasi kesejahteraan bangsa. Bersama memajukan pariwisata, Indonesia Bisa !
____________________






___________________
_____________________
_______________________
sekitar 13 juta kini dilanda gizi buruk di negeri ini.
_____________________
Faisol berkata
Terima kasih, tulisan Anda sangat menarik. Saya juga seringkali memiliki pertanyaan yang sama, dari 9 sektor yang selama ini menjadi acuan pengkategorian sektor ekonomi di Indonesia tidak ada sektor pariwisata di dalamnya. Padahal dewasa ini banyak daerah di Indonesia yang menjadikan pariwisata sebagai visi misi pembangunannya seperti halnya di kota saya, yang bahkan kini semakin akrab disebut sebagai Kota Wisata Batu