…………Travel Tourism Indonesia…TTIspot

. . . . . . . . . . Mari kita monitor denyut nadi pariwisata. Lihat PILIH KATEGORI.

Jakarta, Bandung, Bali mendapat angin buritan

Ditulis oleh Arifin Hutabarat di/pada 28 Juni, 2009

Menyongsong Semester Kedua 2009 (II)

T. Burhanuddin

T. Burhanuddin

Ketajaman strategi dalam pemasaran agaknya hendak diperlihatkan oleh maskapai penerbangan IAA, Indonesia Air Asia.

Peran strategis penerbangan

Peran strategis penerbangan

Memilih regional dekat sebagai bulk-market atau major destinations. Bagi pariwisata Indonesia, ini ibarat “angin buritan” di saat periode sekarang yang dihadang oleh badai krisis ekonomi global dan bayangan ancaman flu babi. Hampir semua jurusan penerbangan di Asia Pasifik bulan Mei 2009 mengeluhkan penurunan jumlah penumpang di atas 10 persen. Penurunan yang berkelanjutan dari bulan-bulan sebelumnya. IATA – International Air Transport Association – yang berbicara untuk seluruh dunia bahkan menyatakan drop bisa mencapai 30 persen di bulan Mei. IATA menyebut periode sekarang sebagai “survival period”.

Dua kejadian itu tetaplah semakin menuntut kehati-hatian menyongsong semester kedua 2009, kendati ada obat penawar dari aksi maskapai penerbangan nasional. Yakni, penurunan jumlah penumpang airlines, dan, dampak temuan-temuan pasien akibat virus H1N1. Di Indonesia telah diumumkan adanya ditemukan dua orang terjangkit H1N1.

Salut pada Indonesia Air Asia, dan industri pariwisata mestinya memanfaatkan peluang yang dibawanya. Diberitakan, Dirut IAA Dharmadi mengumumkan, mulai bulan Juli ini, penerbangan Jakarta-Singapore dan Denpasar-Singapore ditingkatkan dari dua kali seminggu menjadi empat kali. Penerbangan rute Bandung-Singapura ditingkatkan menjadi dua kali setiap hari, dan Bandung-Kuala Lumpur menjadi tiga kali sehari dari tadinya dua kali.

Jumlah wisman dari negeri jiran terdekat itu tentu akan meningkat lagi pada semester kedua 2009 ini. Hotel, restoran, tour operator, toko souvenir sampai factory outlet, dan masyarakat setempat bolehlah gembira dan bersiap.

Masih ada lagi. Akan dibukanya penerbangan Denpasar-Perth mulai 17 Juli nanti, dan penerbangan Jakarta ke Ho Chi Minh City dan Manila akan dimulai bulan September 2009.

Rupanya strategi dialihkan dari tadinya dominan pada pasar dalam negeri yakni 80 persen, hendak dialihkan menjadi 75 persen penumpang regional dan hanya 25 persen penumpang di domestik.

Apa implikasinya? Bisa diartikan, Air Asia tampaknya akan memanfaatkan foreign visitors untuk beterbangan juga di dalam negeri Indonesia, setelah masuk ke Indonesia melalui pintu gateway pertama. Tentu saja masih tetap menggunakan penerbangan IAA antar kota di dalam negeri, yang menerbangkan mereka saat masuk maupun saat keluar dari Indonesia. Tapi yah, itu akan tergantung apakah pihak airlines dan tour travel agents mengadakan penjualan paket-paket perjalanan antar kota di dalam destinasi Indonesia.

Lagi-lagi, bagi pariwisata Indonesia, kenyataan ini ibarat perahu yang mendapatkan angin buritan, angin kuat bertiup dari arah belakang dan membuat laju berlayar semakin kencang. Jadi, mengganti angin badai yang membahayakan. Nah, industri pariwisata Indonesia perlu mendekati dan memanfaatkannya.

Dalam hal mengejar peningkatan aksesibilitas udara ini, sebagai perbandingan, dan sebagai lanjutan dari apa yang pernah kita catat sebelumnya, Muangthai kembali menunjukkan kejeliannya. Maskapai penerbangan Emirates telah berhasil “diundang” dengan menggunakan pesawat A380 meluncurkan penerbangan baru setiap hari sejak Juni 2009 ke Bangkok. Maka, jumlah pengunjung dari Timur Tengah akan “dramatically increase”.

Menteri Pariwisata Muangthai bahkan mengatakan, niat hendak meluaskan layanan Emirates itu ke dua destinasi utamanya, yakni ke Chiang Mai dan Phuket. Tiap pesawat tersebut berkapasitas 489 penumpang.

Bagaimanapun, fakta itu tentulah menambah pesaing Indonesia dalam menarik wisman dari kawasan Timur Tengah. Yah, hati-hati lagi nih. Apalagi bila dimaklumi, maskapai penerbangan dengan rute Timur Tengah-Indonesia yang ada hingga sekarang, tampak lebih didominasi oleh penumpang Tenaga Kerja Indonesia daripada wisman.

Dari maskapai penerbangan “pembawa bendera” Indonesia, Garuda Indonesia, sebagai dimaklumi telah diberitakan menghentikan salah satu rute penerbangannya antara Bali-Australia. Namun di media di Australia, Garuda Indonesia tampak mendorong promosi penerbangan langsung ke Jakarta.

Aksesibilitas udara kita masih relative kurang, sementara airlines Indonesia belum juga ada yang bisa beroperasi ke Eropa. Penerbangan yang membawa bendera Indonesia ke Eropa tetap perlu sebagai “ujung tombak” memajukan pemasaran pariwisata di sana.

Diberitakan minggu lalu, Indonesia berharap Uni Eropa akan mencabut larangan terbang bagi maskapai penerbangan Indonesia ke Eropa. Diberitakan pula, maskapai Garuda Indonesia sehubungan itu akan terbang kembali ke sana, mungkin dimulai lagi dengan tujuan Amsterdam.

Sekjen INACA – Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia, Tengku Burhanuddin mengatakan kemarin pada kita : ”Tidak mungkin Garuda beroperasi ke Amsterdam mulai Juli ini. Mengapa? Sebab diperlukan persiapan operasi, dan persiapan pemasaran, karena pasar Eropa tak seperti pasar di dalam negeri. Warga Eropa senantiasa menentukan rencana perjalanan enam bulan di muka. Maka periode itu memerlukan kegiatan promosi dan pemasaran. Pertimbangkan pula krisis ekonomi yang masih ada di sana.”

Garuda Indonesia tentu akan bisa berperan ibarat lokomotif yang akan menyinarkan simbol-simbol pemasaran destinasi pariwisata Indonesia di Eropa. Maskapai ini pernah menerbangi sampai berjumlah 14 kota-kota destinasi di benua itu termasuk ke Inggris.===

Satu Tanggapan ke “Jakarta, Bandung, Bali mendapat angin buritan”

  1. Stop Dreaming berkata

    terima kasih infonya

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>