Jalan Jaksa Jakarta yang tersohor itu
Ditulis oleh Arifin Hutabarat di/pada 13 Juli, 2009
Adakah potensi serupa di tempat Anda ?

Jason Daniels dengan turis lokal, pengirim foto-foto ini

“Sengaja kami gelar tiga hari, agar lebih berkesan, dibandingkan kalau

Bagi mereka, serasa summer time
dilakukan satu hari saja,” kata Aa Setiabudi dari sub dinas Atraksi dan Peran Serta Masyarakat pada kantor pariwisata walikota Jakarta Pusat. Dia sedang memantau di lapangan ketika Festival wisata malam Jalan Jaksa Jakarta diselenggarakan akhir minggu kemarin. Yang utama tentulah suasana santai yang tampak dinikmati oleh para pejalan kaki, yang lalu lalang, dan di situ terjadilah percampuran masyarakat lokal dengan turis-turis. Bukankah ini bisa memperlihatkan sebagian dari “living culture” yang sesungguhnya dirindukan para wisman? Festival Jalan Jaksa malam hari di Jakarta kali ini dilaksanakan selama tiga hari, Jumat 10 – Minggu 12 Juli yll.
Ya, mulai jam lima sore jalan Jaksa yang sudah “terkenal ke seluruh dunia” itu, tertutup bagi lalu lintas kendaraan bermotor. Di sisi kiri kanan jalan diisi oleh tenda-tenda kecil penjual makanan minuman, barang-barang kerajinan, ada pula pentas di mana hiburan musik disajikan. Yang utama tentulah suasana mingling yang tampak dinikmati oleh para pejalan kaki, yang lalu lalang, dan di situ terjadilah percampuran masyarakat lokal dengan turis-turis. Ada yang memang sedang tinggal di hotel-hotel kecil dan penginapan, ada pula bule yang sedang datang ke situ khusus menikmati festival lokal itu.
Tampaklah Jason Daniels , sedang hanging around, sang guru pengantar pelajaran bahasa Inggris di saluran TV Trans7. Yang mengenalnya liwat layar kaca, lalu bergembira berfoto bersama. Turis-turis yang tinggal di Jalan Jaksa tampak terdiri dari kalangan usia muda dan tua. Tak dapat dipungkiri mereka suka akan suasana pertemuan lokal seperti itu. Biasanya mereka duduk-duduk di beranda rumah makan dan minum, seperti layaknya dijumpai di suasana pantai Kuta di Bali. Atau seperti sedang menikmati minum dan cengkerama ketika negerinya di Eropa atau Amerika atau Australia atau Jepang, sedang diceriaihi musim summer yang hangat. Mereka memang datang dari berbagai negeri tersebut.
Masyarakat Jakarta dari kawasan lain juga berkunjung. Ada Bule lelaki dan perempuan, tampak duduk di bawah tenda dan menikmati makanan local cuisine : nasi bercampur ikan goreng dengan gulai kacang panjang dan jengkol. Wwuuihhh… Di jalan aspal bebas mobil motor itu, anak-anak pun bermain sepeda, mobil-mobilan, berjenaka ria sesama mereka ketika matahari belum hilang sepenuhnya. Pemandangan mengesankan menjelang malam tiba, ketika wisata malam Jalan Jaksa akan tersajikan.
Minum, omong-omong sambil duduk atau berdiri, selain diantara sesama turis, juga bersama orang-orang kita. Kalau tidak, mereka tentulah pergi berjalan-jalan keliling kota Jakarta. Atau tinggal di hotel masing-masing. Terdapat beberapa hotel dan penginapan kecil di situ, hampir tergolong “home stay”. Dan ada beberapa hotel berupa gedung bertingkat tiga dan empat saja.
Aa Setiabudi, dari instansi bidang Atraksi dan Peran Serta Masyarakat pada suku dinas pariwisata kantor walikota Jakarta Pusat, dialah yang memimpin penyelenggaraan festival tersebut. Dia tampak puas. “Sengaja kami gelar tiga hari, agar lebih berkesan, dibandingkan kalau dilakukan satu hari saja,” kata dia menjelaskan. Dan sambutan masyarakat setempat maupun para turis juga menggembirakan. Para pedagang kecil itu, memperoleh kesempatan berbisnis antara lain berkat koordinasi dari perusahaan yang membina.
“Ya, kami bisa ikut tanpa menyewa lahan karena kami usaha kecil binaan,” berkata salah satu di antara mereka.
Jalan Jaksa Jakarta di tengah masyarakat ibukota yang boleh dikatakan masyarakat tingkat menengah ke bawah, bagusnya, belumlah sepadat seperti pantai Kuta di Bali dilihat dari jumlah wisman. Pantai Kuta sebagai dimaklumi sudah teramat didominasi oleh jumlah wisman sehingga pernah dijuluki Australian village. Lagi pula, sepanjang hari sepanjang tahun, daya dukung lingkungan pantai Kuta seolah telah “berat terbebani” memikul kepadatan dan hingar bingar. Jalan Jaksa, sekalipun selalu disebut-sebut di hampir setiap buku bacaan internasional mengenai wisata ke Jakarta,— menjadi salah satu ikon dan pencitraan Jakarta —, memang pantasnya cukup dibatasi dengan jumlah kamar hotel dan home-stay yang kini tersedia.
Merujuk teori klasik ekonomi, jika diperbanyak lagi jumlah kamar penginapan sehingga daya dukung lingkungan permukiman sekitar Jalan Jaksa itu “lebih berat terbebani”, maka akan bisa berlaku teori “the point of diminishing return”. Nilai kuantitatif dan kualitatif yang diperoleh, akan kian menurun.
Festival Jalan Jaksa yang digambarkan ini menunjukkan bagaimana kegiatan atraksi pariwisata bisa dimulai dari inisiatif siapa saja. Bisa dari masyarakat setempat, dari dinas pariwisata, bisa dari industri pariwisata.
Jalan Jaksa itu sendiri tak lain adalah berupa jalan biasa di perkotaan, panjangnya pasti tak sampai limaratus meter, justru terletak beberapa ratus meter saja dari Istana Wakil Presiden dan kantor Gubernur DKI Jakarta, atau jarak berjalan kaki ke Jalan MH Thamrin. Sungguh berada di tengah pusat Jakarta. Di balik jalan Jaksa berdiamlah masyarakat dengan rumah-rumah yang bersusun rapat, dibelah juga oleh gang-gang yang tidak bisa diliwati oleh mobil. Tetapi dunia wisman banyak menyebut nama Jalan Jaksa.
Adakah potensi seperti ini terdapat di lingkungan Anda? Ya bisa saja festival lokal dilakukan sekali atau dua kali setahun ? ==

NewsStory terbaru ?














turut mensponsori Blogspot ini. Kami sangat menghargai semangat yang terkandung dalam sponsorship Depbudpar. Mari kita bicarakan, kita inspirasi, dan mendorong meningkatnya kegiatan bisnis kepariwisataan. Agar meluaskan peluang usaha, kesempatan kerja, dan penerimaan devisa berorientasi kesejahteraan bangsa. Bersama memajukan pariwisata, Indonesia Bisa !
____________________






___________________
_____________________
_______________________
sekitar 13 juta kini dilanda gizi buruk di negeri ini.
_____________________