…………Travel Tourism Indonesia…TTIspot

. . . . . . . . . . Mari kita monitor denyut nadi pariwisata. Lihat PILIH KATEGORI.

Ihwal Budaya & Pariwisata, Malaysia diapakan ya?

Ditulis oleh Arifin Hutabarat di/pada 26 Agustus, 2009

Isyu Tari Pendet satu soal. Sejumlah mata budaya berpotensi “disputes” ?

Iklan Malaysia menampilkan tari pendet Bali, dimaksud itu, rupanya merupakan spot 30 detik yang ditayangkan oleh dan di

Ini tari rampak rebana, dari Kalbar

Ini tari rampak rebana, dari Kalbar

saluran tv Discovery – Asia. Referensinya disebut website www.discoverychannelasia.com. Merupakan in-house ad berisi pre-campaign untuk peluncuran tayangan serial tv mengenai Malaysia, judul serial itu Enigmatig Malaysia. Sang pembuat iklan, production house alias PH  menampilkan bukan saja citra seorang penari tarian pendet Bali, juga mencantumkan sekuntum bunga Raflesia dengan teks Biggest Flower in the World. New Series : Enigmatic Malaysia. Juga menayangkan citra wayang kulit. Ada citra seorang wanita penari yang tak lain adalah penari tarian pendet, dalam pakaian dan gaya tarinya. Lalu ada wajah lelaki yang selintas mirip dengan tampilan wajah dengan hiasan kepala tradisional dayak. Ada citra gedung tua yang dikenal bersejarah peninggalan Portugis di kota Malaka.

Menyusul protes keras yang disampaikan oleh Menbudpar Jero Wacik pada Senin sore 24-8-2009, esoknya saya menerima informasi sebagai jawaban atas pertanyaan melalui sms dari Kepala Pusat Informasi dan Humas Depbudpar, Surya Dharma. Menerangkan : Pihak PH sudah meminta maaf, menyatakan kesalahan ada di pihak mereka, karena iklan itu murni program mereka. Tapi kesalahannya menampilkan tarian pendet untuk promosi serial Enigmatic Malaysia, tetap kesalahan dan Indonesia melakukan protes G to G. Karena memang ada kesepakatan, bahwa untuk hal-hal seperti itu, haruslah dimintakan izin terlebih dahulu. Dan pemerintah Malaysia harus menegor PH tersebut.”

Ihwal iklan-iklan promosi yang resmi dikeluarkan oleh pemerintah Malaysia melalui badan promosi pariwisatanya, dapat dilihat lengkap pada website resmi Tourism Malaysia. Puluhan iklan tv commercial, yang masuk dalam program tayangan di tv seluruh dunia, itu ditampilkan. Demikian pula E-Brochure yang disajikan selengkapnya di internet.

Nah, menelusuri semua materi iklan tersebut, kita akan menemukan sederet “area” yang bisa menjadi “grey area” atau berpotensi menjadi “dispute area”. Ini terutama pada materi iklan-iklan dan bahan promosi yang berkategori Culture, Culture and Heritage, Culture Wonders, Heritage and Craft.

Malaysia melalui iklan-iklan resmi itu, maupun sajian-sajian artikel di situsnya, jelas mengclaim sebagai budaya dan warisan Malaysia, antara lain yang mirip dengan kepemilikan kita di Indonesia : tampilan tari dayak, keris, batik, kebaya, gotong royong, binatang menyerupai orangutan atau bekantan, ….beca,…tari kuda kepang atau kuda lumping , gamelan, angklung, pakaian dan tari dan alat musik dayak Sarawak tentu mirip dengan dayak di Kalimanatan Tengah dan Barat, sampai pun Nasi campur, nasi goreng, es campur. Bahkan juga tari lompat jepit bambu yang selama ini kita tahu sebagai warisan budaya di Filipina.

Ada juga tarian menyerupai Reog, di mana tampil adalah seorang penari wanita, dengan berkostum tradisional, dikepalanya menggendong hiasan ukuran besar dan tampak berat, tak lain adalah susunan penuh bulu ekor burung Merak yang sedang mengembang. Tampak seperti hiasan tradisional dan gaya tarian Reog Ponorogo.

Di lain bentuk, salah satu E-brochure-nya mencantumkan : Catch a wayang kulit (shadow puppet play); (di Malaysia dengan storyteller disebeut Tok Dalang),  spin a hand-made timber gasing (top) and indulge in a fascinating pastime of congkak with the local villagers. Slurp on air batu campur (ABC) (ice shavings with condiments and topped with tasty syrup), eat with relish the local breakfast nasi lemak and roti canai and be a part of the Malaysian culture.

Soal Tari Pendet, Menbudpar Kirim Surat Teguran Keras ke Malaysia

“Saya sudah kirim surat teguran keras kepada Malaysia atas masalah ini,” kata Menbudpar Jero Wacik dalam jumpa pers di Gedung Sapta Pesona Jakarta, Senin (24/8).

Selain mengirim surat teguran kepada Menteri Kebudayaan Kesenian dan Warisan Malaysia, Menbudpar Jero Wacik juga memanggil Dubes Malaysia untuk Indonesia di Jakarta Zainal Abidin Zain hari itu juga.

“Seluruh dunia juga tahu  kalau tari pendet asli berasal dari Bali, seharusnya mereka punya etika dalam bertetangga,” katanya.

Belajar dari kasus klaim lagu Rasa Sayange yang dilakukan Malaysia dua tahun lalu,   setelah dilakukan klarifikasi dan kunjungan protes ke negara itu, pemerintah Malaysia menyatakan lagu yang dijadikan jingle iklan Visit Malaysia Year itu suatu bentuk kekhilafan dan dibuat oleh pihak swasta. Selanjutnya disepakati bahwa penggunaan karya budaya Indonesia dalam materi iklan promosi pariwisata Malaysia harus minta izin dulu pada pemerintah Indonesia dan dicantumkan asalnya.

Menbudpar Kembali Ingatkan Agar Karya Budaya Segera Didaftarkan

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) Jero Wacik kembali mengingatkan kepada gubernur dan para seniman untuk segera mendaftarkan karya budaya mereka, agar di kemudian hari tidak diakui oleh negara lain. Sementara untuk mendorong percepatan pendaftaran itu , Depbudpar bersama Depkumham telah membuat desk bersama  untuk memfasilitasi pendaftaran tersebut.

“Setelah kita melakukan MoU,  Depbudpar dan Depkumham membentuk desk bersama untuk mendorong pendaftaran karya budaya agar mendapatkan perlindungan hukum. Sejak Oktober 2007 hingga sekarang yang mendaftarkan baru sekitar 600 karya, padahal kita fasilitasi terhadap 1.000 karya budaya yang didaftarkan tanpa dikenai biaya,” kata Menbudpar Jero Wacik, seusai memberi keterangan seputar tari Pendet yang dijadikan iklan promosi Malaysia di televisi Discovery Channel yang kemudian mendapat protes keras masyarakat Indonesia, di Jakarta, Selasa (25/8).

Menbudpar mengatakan, pemerintah sejak tahun 2007 terus mendorong gubernur dan para seniman untuk segera mendaftarkan karya budaya,  baik secara kolektif maupun perorangan. Diharapkan dengan pendaftaran secara kolektif dimungkinkan ribuan karya budaya Indonesia segera mendapat Hak Karya Intelektual (HKI) bidang budaya sebagai  perlindungan hukum.

Memang, sebelumnya, Direktur Promosi Luar Negeri, Ditjen Pemasaran Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) Prof.DR. I Gde Pitana mengatakan, tari pendet dalam iklan  Malaysia dapat ditayangkan sepanjang seni budaya asli Bali itu tidak diklaim sebagai milik  Malaysia.

“Kita harus melihat konteks masalahnya. Karena dalam iklan pariwisata  kita juga sering tampilkan Barongsai, sebagai daya tarik bahwa di Indonesia juga ada atraksi Barongsai. Tetapi kita tidak pernah mengklaim Barongsai  itu milik Indonesia, melainkan seni budaya itu berasal dari Cina,” kata I Gde Pitana di Gedung Sapta Pesona Jakarta, Jumat (21/8).

Menurut Pitana, tarian Pendet merupakan seni budaya asli Bali dengan demikian Hak Kekayaan Intelektual (HAKI)-nya adalah milik masyarakat Bali. “Mengenai perlindungan HAKI atau Intellectual Property Rights bidang seni budaya,  Depbudpar bersama Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia (Depkumham)  telah melakukan nota kesepahaman (MoU), “kata Pitana seraya mengatakan, dengan adanya MoU itu diharapkan masing-masing daerah rajin untuk mendaftarkan karya seni budaya baik milik perorangan atau masyarakat ke Depkumham untuk mendapatkan perlindungan hukum.

Seperti diketahui di penghujung tahun 2007 Malaysia pernah menggunakan  lagu Rasa Sayange untuk jingle kampanye Visit Malaysia Year yang kemudian mendapat protes keras dari masyarakat Indonesia.  Terkait dengan hal itu Menteri Kebudayaan Kesenian dan Warisan Malaysia Rais Yatim dalam pertemuan dengan Menbudpar Jero Wacik ketika itu menegaskan bahwa Malaysia tidak pernah mengklaim lagu Rasa Sayange yang dijadikan jingle itu adalah milik Malaysia.

Menlu Hassan Wirayuda tentu memberikan pandangan dan pedoman berhubung munculnya issyu tari pendet. Beritanya disiarkan sebagai berikut :

Indonesia can not blame Malaysia for using “its icons,” like batik and Rafflesia flower in its tourism campaign because the country feels to have a sense of belonging of the icons. Some of them feel that they are part of Indonesian culture because we are from the same root. We also live side by side. They also inherit things that Indonesians have,” said the Foreign Minister Hassan Wirajuda here.

Berita itu menyebutkan : Some Indonesians claim Rafflesia arnoldi, the biggest flower species in the world, as belongings of Indonesia because it only lives in Sumatra province. However, according to the Singapore Library Board, the flower also lives in Malaysia , Singapore and the Philippines .

In Peninsular Malaysia, Rafflesia buds are used by women to stop internal bleeding and shrink the womb after childbirth. Men use it as an energy drink or an aphrodisiac. Thai monks use the buds to make different concoctions for different purposes.

For batik clothes, despite influence from Indonesian batik, Malaysian batik is actually distinct from its rival. It does resemble the Indonesian batik as far as technique or raw material.But, Malaysian batik is recognized by its distinct pattern and vivid colors.

Pariwisata Kita dan Mereka

Namun bersamaan itu, di Indonesia ada juga di antara kita berpendapat seperti ini : Kalau tari pendet bisa di-claim sebagai icon Malaysia, bisa-bisa sebentar lagi Malaysia bisa juga mengatakan bahwa dengan menggunakan slogan mereka “Malaysia, Truly Asia”, Bali adalah juga bagian dari Asia, jadi juga bagian dari Malaysia.

Itu merupakan pendapat. Di lain fakta pengalaman, kembali ke medio dasawarsa 1980 sampai awal 1990an, di radio-radio di Eropa, berkumandang iklan-iklan promosi pariwisata dari badan pariwisata Malaysia. Mengundang wisman untuk berkunjung ke negerinya, dan lalu menyerukan : dari Malaysia terus berkunjung ke Yogyakarata, ke pulau Bali.

Cara promosi serupa kemudian juga diterapkan oleh Singapura. Sebelum atau setelah berkunjung ke Singapura, para wisman diserukan menikmati kunjungan ke destinasi Yogyakarta dan Bali. Mereka menjual paket-paket wisata dengan itinerary demikian.

Tentu saja, promosi itu dalam rangka menjual seat maskapai penerbangan Malaysian Airlines dan Singapore Airlines, selain memang memanfaatkan “keterkenalan” yang sudah terlebih dulu ada mengenai destinasi Yogya dan Bali yang “ethnic” dan “tropical paradise”, di pasar pariwisata internasional. Para pemerhati bisnis pariwisata ketika itu menyebut industri pariwisata Malaysia dan Singapura “memanfaatkan potensi destinasi Indonesia sebagai back yard alias ibaratnya halaman belakang pekarangan rumah”.

Presiden Tunggu Niat Baik Malaysia

Kembali berkaitan isyu tari Pendet, hari ini Presiden Susilo Bambang Yudhoyono diberitakan luas memberikan pernyataan. KOMPAS antara lain menulis: “Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menunggu niat baik Pemerintah Malaysia terkait penggunaan tari pendet yang tidak patut untuk promosi wisata Malaysia. Protes yang dilayangkan ke Malaysia dinilai tidak berlebihan karena Malaysia sudah berkali-kali melakukannya.

“Ini pelajaran yang sangat baik. Dan saya sekali lagi berharap niat baik Indonesia untuk menjaga hubungan baik ini juga dimiliki Malaysia untuk melakukan hal yang sama sehingga kerjasama yang baik di banyak bidang jangan terganggu dengan hal-hal seperti ini,” ujar Presiden pada jumpa pers di Kantor Presiden di Jakarta, Selasa (25/8).

“Bagaimanapun, saya berharap Pemerintah Malaysia bisa menjaga sensitivitas rakyat Indonesia,” ujar Presiden.

“Indonesia berharap Malaysia sungguh memberikan atensi, menjaga perasaan masyarakat Indonesia, memelihara hubungan baik, dan EPG (eminent person group) bisa difungsikan untuk mencegah hal-hal begini. Ini harapan saya dengan semangat, sekali lagi, untuk menjaga dan memelihara hubungan baik,” ujar Presiden.

Begitulah perkembangannya.===

2 Tanggapan ke “Ihwal Budaya & Pariwisata, Malaysia diapakan ya?”

  1. Benno Karamoy berkata

    Menurut saya tindakan pemerintah c.q Menteri Pariwisata Jero Wacik sudah cukup proporsional baik berupa teguran kepada pemerintah Malaysia maupun introspeksi untuk segera mendaftarkan semua aset budaya kita secara Hukum.

    Malaysia sudah keterlaluan karena ini bukan baru sekali terjadi, dan terkesan mencari-cari “kambing hitam” kesalahan Production House (PH). Pemerintah Indonesia harus bisa menjajaki tindakan lebih serius secara hukum international. Agar hal ini tidak terulang-ulang.

    Memang kita juga harus obyektif, tidak “hantam kromo” bahwasanya ada cukup banyak kemiripan budaya dan karya seni sehubungan dengan “satu rumpun”. Contoh: Batik, merka berhak meng-claim Batik Malaysia, karena corak, bahan dan mungkin cara pembuatan juga berbeda.

    Setelah Indonoesia dirugikan akibat Bom Jakarta dan Claim Budaya dari pihak Malaysia, pemerintah secara serius harus berani mengeluarkan anggaran khusus dengan membuat “contra iklan” melalui media global seperti CNN, yang antara lain menggambarkan secara proporsional letak gografis Jakarta dan Bali, Yogya, Sumatera sehingga mereka tidak men-generalisasi “Indonesia penuh Teroris/Bom”. Begitu juga soal harta kekayaan Budaya dari Sabang s/d Merauke, mungkin mengambil ide iklan “Indomie” dengan menampilkan keragamam budaya tersebut.

    Semoga Pariwisata Indonesia tidak terus “dikoyak-koyak”. Bangkit dan bersatulah Pariwisata Indonesia !!.

  2. mawar dhani berkata

    menurut aku , janganlah terlalu menyalahkan orang kali.. . ya kadang ada benarnya juga orang itu ngaku-ngakui, sebab dari situ, kita sadar bahwa kita punya kebudayaan yang hampir terlupakan…

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>