Eko dan Agro Tourism agar semakin layak jual
Ditulis oleh Arifin Hutabarat di/pada 26 Oktober, 2009
Model Ke Jatinangor Bandung, atau Tegal, atau Nusa Dua Bali ?

Wisata eko menanam bibit pohon kopi
Eco-tourism dan Agro-tourism mestinya tidak identik dengan jalan-jalan yang rusak atau lintasan-lintasan cross country jalur lomba setengah petualangan bersepeda, sepeda motor maupun mobil. Tapi sekitar 50 wisatawan turun dari dua bus di tengah perbukitan, setelah 10 menit mendaki meliwati kawasan kampus Universitas Pajajaran, Jatinangor. Di situ mereka dijemput oleh tiga jip besar terbuka berkerangka model kendaraan safari di padang Afrika. Perjalanan selanjutnya kian menanjak, di atas jalan yang berlubang-lubang, bekas-bekas aspal dan bebatuan sudah kurang dari separuh jalan. Supir yang mengendarai harus piawai dengan risiko tergelincir atau bahkan terjerumus ke jurang.
Namun pemandangan alam yang lepas ke sekeliling lumayan menghibur dan tarikan nafas kita dari udara pegunungan itu terasa membersihkan dada. Kendati sekali-sekali debu dari gilasan roda mobil menyapu muka. Sejak bus mendaki naik dan turun naik dari titik awal kompleks Unpad, rasanya menarik garis lurus menuju ketinggian 45 derajat hingga mencapai tujuan: Villa Bumi Kahyangan, Sumedang, Jawa Barat. Ternyata tempat ini berlokasi 1200 meter di atas permukaan laut.
Ke bawah terhampar pemadangan lepas lembah yang hijau. Dihiasi dua puncak gunung menjulang di seberang. Ketika pagi matahari baru muncul maka perumahan dan pepohonan di lembah tampak diselimuti oleh tipis-tipisnya halimun dengan lembut. Lukisan indah serasa bernyawa.
Rombongan wisatawan domestik itu sesunggunya bermaksud melaksanakan program outbound. Kompleks Villa Bumi Kahyangan beroperasi sejak Maret 2009 yll khusus untuk tamu-tamu kelompok yang mengadakan kegiatan pembinaan team ( team building ), dengan permainan-permainan dan olah raga yang membangun persahabatan, kepercayaan, motivasi, dan seterusnya.
Aksi nyata
Nah, kelompok ini mengenalkan inovasi. Kegiatan itu dikombinasikan dengan wisata sadar lingkungan. Di antara acara outbound, rombongan melakukan penanaman pohon; setiap orang menanam satu pohon.
Perbukitan yang terbuka ditanami dengan bibit pohon kopi. Per bibit berukuran tinggi sekitar 15 cm rupanya berharga Rp 2.000 saja. Tapi dalam tempo 10 bulan, tanaman di atas permukaan laut sekitar 1200 meter ini, akan bisa dipanen dengan hasil 30 KG kopi Arabica. Dan harganya sekitar Rp 30 ribu per KG. Jadi, tiap pohon akan menghasilkan hampir Rp 1 juta, bukan?
Maka saya pun berangan-angan. Yang namanya Eco-tourism, atau juga Agro-tourism, berpotensi akan semakin menarik dan mengesankan bagi wisatawan jika disertakan kegiatan penanaman pohon. Itu aksi nyata. Lalu, hasil panen akan dibagi katakanlah fifti-fifti antara yang menanam bibit dengan pemilik tanah. Dengan demikian, jika sebuah perusahaan satu kali setahun saja datang membawa rombongan karyawan untuk ber-outbound ria, maka setiap datang kembali semenjak kedatangan yang pertama kali, hasil panen kopi per pohon itu boleh jadi akan mengembalikan sebagian biaya tur outbound per orang.
Saya mau mengusulkan kepada manajemen Bumi Kahyangan itu, atau pada EO yang biasa menjual program Outbound, agar selalu menambahkan pada tarifnya sekedar Rp 2.000 per orang untuk menanam satu pohon. Dengan pola bagi hasil tadi,…ha ha ha mungkin Anda bilang “matre kamu”…
Tapi sungguh, saya teringat wisatawan-wisatawan dari Belanda, Jerman, Prancis ketika dibawa ke Kali Klatak, sebuah desa perbukitan di ujung Jawa Timur. Wisman itu oleh satu program Jawa overland tour dari Jakarta, sebelum menyeberang ke Bali, disinggahkan di kawasn perkebunan coklat dan kopi. Bukan main riang gembiranya mereka, yang muda usia maupun yang kakek nenek, menyentuh-nyentuh buah coklat di pohonnya. Dan di gudang penyimpanan yang luas dan bersih, kayaknya meluap rasa kepingin melompat ke tengah tumpukan kopi yang menggunung. Wajah seakan gemas gembira menyaksikan begitulah rupanya pohon dan buah kopi dan buah kakao bahan mentah coklat. Setiap hari seumur hidup mereka tahunya hanya mengonsumsi saja di negeri masing-masing jauh di sana.
Agro merangkap Eco-tour
Memang agak berbeda namun tetap produktif bila Anda menikmati Wisata Agro ke persemaian bibit jati unggul di Tegal. Di situ kita menemukan bibit pohon jati, ratusan ribu tersedia. Jika Anda setelah menyaksikan itu dan membeli lalu menanam, maka dalam lima tahun sudah bisa dipanen. Alias kayu jatinya bisa dijual dengan nilai hampir sepuluh kali lipat dari biaya beli dan pemeliharaan. Jika anda belanjakan Rp 5 juta selama lima tahun misalnya, lima tahun kemudian itu nilai jual panen mendekati Rp 50 juta.
Ah, saya berangan-angan lagi, Agro-tourism pun bisa mencari dan menggali ide-ide produktif seperti itu. Gabungan liburan, hiburan, senang-senang, menikmati budaya lokal, seraya memelihara lingkungan serta sumber daya alam.
Dan cerita di bawah ini berbeda lagi dengan ide yang ternyata sudah berkembang di pulau Bali.
Dalam rangka mendukung pendanaan program pemulihan karang di pesisir Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, ditawarkan skema adopsi karang kepada berbagai pihak, terutama kalangan wisatawan penikmat wisata bahari.
Baru saja seminggu yll., program tersebut mulai dipromosikan kepada pengunjung Nusa Dua Fiesta yang berlangsung 17-21 Oktober 2009. Termasuk wisatawan asing dari berbagai negara terus berdatangan.
Diberitakan oleh “Antara”, penawaran skema adopsi karang selain untuk mendukung pendanaan, juga dimaksudkan sebagai upaya membangkitkan kesadaran publik dan pelibatan langsung penikmat wisata bahari.
Program restorasi karang merupakan inisiatif Bali Tourism Development Corporation (BTDC), sebagai pengelola kawasan resor Nusa Dua, setelah mengetahui kondisi ekosistem terumbu karang pesisir setempat yang terdegradasi.
Setiap orang, baik turis mancanegara, domestik, maupun masyarakat lokal, dapat menunjukkan kepeduliannya terhadap karang dengan memberikan donasi dalam jumlah tertentu.
Menurut Pariama Hutasoit, koordinator kegiatan, tahap awal pihaknya mempromosikan skema bantuan sebesar 25 dolar AS untuk satu fragmen atau onggokan karang transplantasi, dan 500 dolar AS untuk satu karang buatan (artificial reef) Submarine Reef berikut 20 fragmen karang transplantasi.
Bali International Women`s Association (BIWA), termasuk organisasi pertama yang menyatakan diri mengadopsi delapan fragmen karang, sebagai salah satu bentuk kepedulian terhadap upaya pelestarian lingkungan.
“Meskipun sebagai organisasi wanita, kami menaruh kepedulian pada masalah lingkungan. Dengan mengadopsi karang, kami berharap dapat memberikan kontribusi pada konservasi karang Nusa Dua,” komentar Ketua BIWA, Melly St.Ange.
Dukungan lain juga datang dari staf Nusa Dua Hotel & Spa yang mengadopsi enam fragmen karang dan Westin Resort Nusa Dua mengadopsi satu struktur Submarine Reef. Organisasi lain yang telah menyatakan ikut mengadopsi karang adalah KUD Merta Segara Samuh, dan beberapa pihak yang juga siap mengadopsi karang.
Seluruh karang yang telah diadopsi akan ditransplantasikan ke struktur terumbu buatan Submarine Reef yang telah lebih dahulu ditempatkan.
Pengunjung Nusa Dua Fiesta mendapat kesempatan menyaksikan pelaksanaan “coral transplantation” di Pantai Nusa Dua mulai pukul 07.00 Wita. Sedangkan adopters yang ingin mentransplantasikan langsung karang yang diadopsinya dapat bergabung bersama tim penyelam.
Sementara proses berlangsung, parade jukung mengiringi pelaksanaan transplantasi di bawah laut tersebut. Turis-turis yang bergabung dalam jukung, bisa melihat langsung melalui aktivitas snorkeling.
Terumbu buatan Submarine Reef ditempatkan di lokasi terumbu karang yang telah rusak pada kedalaman sembilan meter di bawah permukaan laut. Pada 6 Oktober 2009 lalu, 14 struktur Submarine Reef telah ditempatkan, dan menyusul dua struktur pada 20 Oktober 2009.
Kegiatan Pusformas Depbudpar

Rombongan Pusformas Depbudpar dan wartawan
Maka, tak diragukan restorasi karang Nusa Dua merupakan sebagian kecil saja di antara yang dapat dilakukan untuk membantu memperbaiki terumbu karang yang telah rusak. Begitu pula pilihan menanam pohon kopi atau pohon bibit jati unggul, atau lainnya lagi, bisa dijadikan inspirasi dalam mengemas paket-paket wisata peduli lingkungan maupun paket wisata agro. Ya inspirasi dan inovasi bisa muncul dari setiap kesempatan. Atau mengadopsi pengalaman demi pengalaman.
Ketahuilah, pembaca, rombongan 50 wisatawan ke gunung arah belakang kampus Unpad di Jatinangor yang diceritakan di atas tadi, terdiri dari pimpinan dan staf Pusformas – Pusat Informasi dan Humas Depbudpar, bersama sekitar 40 wartawan dan wartawati berbagai media ibukota. Mereka memang menjalani program outbound hari Jumat dan Sabtu. Mereka sungguh happy dan enjoy.
Terpulang kepada para Pemda, dan unit-unit usaha yang bergerak melayani dan memasarkan tur eko atau tur agro, bagaimana agar tur kategori itu tidak identik dengan keharusan meliwati jalan-jalan lintasan yang reyot banyak lubang. Agar semakin layak jual. Dan selaku wisatawan yang sadar lingkungan dan pertanian, Anda bolehlah menimbang dan merencanakan destinasi yang akan dikunjungi sedari sekarang.===
NewsStory terbaru ?















_______________________
turut mensponsori Blogspot ini. Kami sangat menghargai semangat yang terkandung dalam sponsorship Depbudpar. Mari kita bicarakan, kita inspirasi, dan mendorong meningkatnya kegiatan bisnis kepariwisataan. Agar meluaskan peluang usaha, kesempatan kerja, dan penerimaan devisa berorientasi kesejahteraan bangsa. Bersama memajukan pariwisata, Indonesia Bisa !
____________________






___________________
_____________________
sekitar 13 juta kini dilanda gizi buruk di negeri ini.
_____________________