…………Travel Tourism Indonesia…TTIspot

. . . . . . . . . . Mari kita monitor denyut nadi pariwisata. Lihat PILIH KATEGORI.

Menyongsong tutup 2009 dan buka 2010

Ditulis oleh Arifin Hutabarat di/pada 4 November, 2009

Diplomasi penerbangan untuk membuka pasar dan bisnis

Menggarap dengan penerbangan.

Ticketing staff, Merpati. Kesiapan SDM pun bersaing.

Staf darat Merpati. Kesiapan SDM pun bersaing.

Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia pada Januari hingga  September 2009 secara kumulatif mencapai 4.619.483 orang atau tumbuh 1,07% jika dibandingkan periode yang sama tahun 2008 sebesar 4.570.492 orang. Dapat dipastikan target wisman 6,5 juta untuk 2009 akan tercapai mengingat biasanya bulan Desember selalu meningkat lebih tinggi dari bulan-bulan sebelumnya. Sebaliknya jumlah penumpang penerbangan selama Januari-September 2009 dari Indonesia ke luar negeri meningkat 6,78 persen yaitu berjumlah 5,7 juta dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Bagaimana perbandingan dan neraca antara penghasilan devisa dari kunjungan wisman dengan pengeluaran devisa akibat  “kepergian” warga Indonesia ke luar negeri, oleh Sekjen Depertemen Kebudayaan dan Pariwisata digambarkan seperti ini: (dalam juta US dollar)

TAHUN INFLOWS OUTFLOWS NET
2004 4.798 3.507 1.291
2005 4.522 3.584 938
2006 4.448 4.030 418
2007 5.346 4.904 442
2008 7.374 5.397 1.977
2009 (Q.1) 1.422 1.101 321

Hasil devisa dari kunjungan wisman merupakan perhitungan dari Bank Indonesia, dan pengeluaran “outflows” tersebut di atas berdasarkan olahan data dari survey oleh Depbudpar pada outbound traveler setiap tahun.

Selama tahun 2009, secara kumulatif pula penambahan penerbangan yang menghubungkan destinasi di Indonesia dengan luar negeri, yang merupakan sumber wisman,  jumlahnya relatif kecil. Tetapi masih patut disyukuri adanya penambahan seperti pembukaan dan penambahan beberapa frekuensi penerbangan dari Malaysia dan Singapura dan Australia ke Jawa dan Bali. Yang mutakhir bulan Desember ini KLM maskapai Belanda akan membuka kembali direct flight ke Denpasar Bali.

Para travel agent dan tour operator maupun pemerintah daerah dan masyarakat bisnis patut memperhatikan Manda Airlines, maskapai nasional yang menjelang tutup tahun 2009 ini menampakkan persiapannya hendak terbang ke luar negeri. Telah diberitakan rencananya memulai penerbangan ke ASEAN dan Australia tahun depan, dan saat ini sedang berunding untuk kemungkinan kerjasama dengan beberapa airlines. Disebut antara lain Tiger Airways, Whizz (Hungary), dan Spirit (US), dan akan menggunakan pesawat Airbus 320.

Yang nyaris pasti pula, adalah rencana Garuda Indonesia membuka kembali penerbangannya ke Amsterdam, Eropah, mulai sekitar semester kedua 2010.

Menyongsong bisnis 2010

Diperbandingkan dengan gerakan-gerakan pariwisata di beberapa Negara ASEAN selama tahun 2009, daya saing Indonesia ternryata bukan saja masih jauh tertinggal dengan ukuran 14 faktor yang digunakan sebagai pengukur secara internasional. Tetapi lebih dari itu, dari sudut praksis bisnis berdasarkan kenyataan jumlah kunjunan wisman, ketertinggalan Indonesia, utamanya terletak pada rendahnya daya saing di bidang aksesibilitas angkutan udara.

Keadaan dimaksud dicerminkan oleh fakta a.l. : ada 72 bilateral air agreement yang ditandatangani oleh pemerintah tetapi sekitar 50% yang operasional ; jumlah total seat capacity penerbangan internasional di Indonesia setahun sekitar 13 juta, dibandingkan Singapura  60 juta, Malaysia 50 juta dan Thailand 40 juta.

Selama tahun 2009, bukan main dinamisnya pertumbuhan penerbangan yang didorong mulai dari Singapura, Malaysia, Muangthai, Vietnam, Filipina, sampai Kamboja. Badan-badan pariwisata di masing-masing negeri itu dan “travel trade” mereka, tampak sibuk dan berhasil menarik penerbangan asing beroperasi. Disamping secara bilateral antar negara-negara tetangga terdekat, juga ke jarak regional yang mempunyai potensi besar pariwisata “outbound” yakni Jepang, Cina dan India. Lebih dari itu, penerbangan yang dibuka selain scheduled-flight juga charter-flight sebagai “emergency steps” mengatasi dampak berbagai krisis: krisis ekonomi global, virus H1N1, perubahan pola bepergian dari long haul ke medium and short haul.

Masih ada kelebihan lain. Kecenderungan membuka penerbangan dengan rute dari luar negeri – pasar wisman, langsung ke destinasi di daerah-daerah propinsi. Jadi, tidak hanya terbatas ke pintu masuk utama yang lazimnya ibukota negara.

Satu contoh saja di antara puluhan, kita simak. Tiger Airways memulai kembali penerbangan empat kali seminggu Singapura-Krabi dengan Airbus 320, dan membuka rute baru Singapura- Hat Yai tiga kali seminggu. Krabi dan Hat Yai merupakan propinsi jauh dari ibukota Bangkok. Maskapai baru berdiri bernama Happy Air, memulai penerbangan sekali seminggu Phuket-Hat Yai, tetapi bersamaan itu membuka penerbangan Hat Yai-Langkawi dan Phuket-Langkawi. Sebenarnya sejak Mei yll, maskapai lain Firefly memulai penerbangan setiap hari antara Kuala Lumpur dan Phuket. Dan segera akan memulai penerbangan Kuala Lumpur-Hat Yai. Langkawai merupakan propinsi jauh dari ibukota Kuala Lumpur.

Dari perspektif ini sebenarnya praktis tidak mungkin jumlah kunjungan wisman ke Indonesia mencapai 10 juta per tahun, bilamana kapasitas penerbangan jumlah totalnya baru 13 juta seat setahun.

Ketika international peak season secara tradisional di bulan Juli Agustus dan Desember tiba, di Indonesia juga beberapa maskapai penerbangan nasional dan asing menambah ‘extra-flight’ , jadi bukan charter flight, namun umumnya justru untuk membawa wisatawan dari Indonesia untuk bepergian menjadi “outbound traveler”. Bukan sebaliknya.

Ditambah beberapa fakta lain, gejala keengganan dari airlines asing maupun maskapai nasional dalam membuka operasi penerbangan internasional atau regional atau meningkatkan penerbangan ke Indonesia, tidak berubah selama sedikitnya 10 tahun terakhir ini.

Ini mengekspos kita pada salah satu tantangan memasuki tahun 2010 dan seterusnya. Diplomasi dari pemerintahan ke luar negeri, inisiatif dari pemerintahan di daerah destinasi, dengan perpaduan gerakan para “travel trade people”, mereka yang bergeral di tour and travel operator, akomodasi, atraksi dan seterusnya— perlu dinamisasi untuk bisa menarik maskapai penerbangan asing beroperasi ke Indonesia. Ya, suka tidak suka, seperti layaknya apa yang dilakukan akhir-akhir ini oleh tetangga-tetangga Indonesia. Tanpa itu, rasanya kita akan “begini-begini saja”.===

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>