…………Travel Tourism Indonesia…TTIspot

. . . . . . . . . . Mari kita monitor denyut nadi pariwisata. Lihat PILIH KATEGORI.

Memanfaatkan Maskapai Asing Secepatnya

Posted by Arifin Hutabarat pada 14 November, 2008

Arif Wibowo

Arif Wibowo

Paradigma baru dengan rasa kepercayaan diri untuk bersaing bebas di pasar, tampaknya kuat menjalar di lingkungan manajemen  Garuda Indonesia. Salah satu tercermin melalui sikap yang tidak lagi mengharapkan privilege yang protektif. Maka yang saat ini Ketua Barindo – Board of (Foreign) Airlines Representative in IndonesiaArif Wibowo, Senior General Manager Garuda Indonesia di Jakarta, atas nama asosiasi itu menyatakan kesetujuan dan keinginan agar semua anggotanya dimanfaatkan untuk menarik wisman dari mancanegara. Itu ditegaskannya dalam perbincangan dengan TTIspot ini.

Para anggota asosiasi itu, berpotensi bisa misalnya, menyediakan tiket bagi wartawan atau travel writers, dari negeri masing-masing, untuk berkunjung ke Indonesia. Pihak Departemen Kebudayaan dan Pariwisata ( Depbudpar) dalam hal itu bisa menyediakan land arrangement: hotel, transportasi, dan kunjungan ke destinasi atau objek wisata, selain kesempatan wawancara. Kita dahulukan saja undangan para penulis, mengingat promosi di pasar luar negeri melalui tulisan-tulisan di media akan bergaung luas. Itu kalau dibandingkan dengan mengundang hanya travel agent. Begitulah sikap yang diutarakan oleh Arif Wibowo, dia sendiri General Manager Garuda Indonesia untuk Jakarta Raya.

 

Dia juga mengusulkan agar Dirjen Pemasaran Pariwisata atau bahkan Menteri Pariwisata sebaiknya bersedia memaparkan rencana pariwisata untuk tahun 2009. Gagasan itu saya sampaikan ke Depbudpar. Tampaknya Dirjen Pemasaran Pariwisata, Sapta Nirwandar, menyambut dan tampaknya akan melaksanakan idée itu dalam waktu dekat ini.

 

Barindo merupakan sebuah wadah perwakilan airlines asing yang beroperasi di Indonesia, saat ini beranggotakan 29 maskapai.

 

Sebenarnya adalah lazim setiap airlines asing tersebut juga menyelenggarakan familiarization trip bagi tour operator di negerinya, dalam rangka mempromosikan destinasi Indonesia, untuk penjualan tiket di negeri asalnya. Sama seperti kebiasaan membawa tour operator dari Indonesia ke negerinya, dan ini untuk kepentingan tugas uatamanya berada di Jakarta, yaitu memasarkan destinasi luar negeri untuk penjualan tiket di Indonesia.

 

Tetapi tentu berbeda dampak dan bobotnya, bilamana pihak Indonesia sendiri secara resmi menggalang dukungan dan kerjasama, dengan para perwakilan maskapai itu yang ada di Jakarta. Begitulah ditekankan oleh Arif Wibowo.

 

Lagi pula, dia sependapat, Jakarta sebagai destinasi masih sulit dipasarkan dewasa ini. Sementara itu, maskapai asing anggota Barindo, hampir seluruhnya melayani hanya kota Jakarta. Maka secara taktis, maskapai asing bisa diajak menambah daya untuk mempromosikan destinasi Jakarta.

 

Setelah para travel writers diundang, kemudian barulah para tour operator – buyers -, dari luar negeri. Bilamana difasilitasi lagi oleh Depbudpar, atau bersama pihak industri, maka kegiatan ini akan menambah lagi daya promosi terhadap semua rencana asli yang dipunyai oleh Depbudpar dan industri pariwisata Indonesia.

 

Saya sendiri melihat kemungkinan tambahan. Pihak industri pariwisata Indonesia, hotel dan tour operator di Jakarta, misalnya, dengan pro aktif bisa mencari calon-calon partner produser turis di negeri asal maskapai penerbangan asing anggota Barindo. Kemudian mengusulkan calon-calon tersebut untuk difasilitasi kunjungannya ke destinasi Indonesia, di mana tentunya diharapkan sebagai output, mereka akan menyusun paket yang sesuai dengan pasar di negeri mereka. Dan menjualnya.

 

Dalam konteks itu Arif Wibowo berpendapat, yang akan memutuskan akhir siapa yang bisa diundang, tentulah tetap berada pada pertimbangan pihak maskapai asing. Selain perwakilan yang di Jakarta, juga pertimbangan dari kantor pusatnya.

 

Depbudpar sendiri pun telah menjalin kerjasama langsung dengan menandatangani kerjasama resmi dengan dua airlines yaitu Singapore Airlines dan AirAsia. Kerjasama dengan maskapai nasional Garuda Indonesia sudah menjadi tradisi sejak lama.

 

Jadi, kini kita bolehlah menanti kerjasama saling memanfaatkan, antara pemerintah dalam hal ini Depbudpar bersama industri Indonesia, dengan lebih banyak airlines, yang akan berguna mengakselerasi peningkatan kunjungan wisman.

 

Langkah semacam ini terasa semakin urgen diperlukan, mengingat situasi mancanegara tahun 2009 yang membersitkan ancaman kelesuan ekonomi, dan ancaman jumlah wisman tradisional akan menurun.

Iklan

2 Tanggapan to “Memanfaatkan Maskapai Asing Secepatnya”

  1. Artikel-artikel di blog ini bagus-bagus. Coba lebih dipopulerkan lagi di Lintasberita.com akan lebih berguna buat pembaca di seluruh tanah air. Dan kami juga telah memiliki plugin untuk WordPress dengan installasi mudah.
    Kami berharap bisa meningkatkan kerjasama dengan memasangkan WIDGET Lintas Berita di website Anda sehingga akan lebih mudah mempopulerkan artikel Anda untuk seluruh pembaca di seluruh nusantara dan menambah incoming traffic di website Anda. Salam!

  2. Promosi memang harus digalakkan, tetapi informasi
    standar untuk Pramuwisata & Pengatur Wisata (Tourist
    Guide + Tour Leader)kita sangat mendesak untuk digali
    dan disusun, guna mencegah mereka memberikan informasi
    salah kepada para wisman dan wisnus.

    Penelitian intensif untuk menghimpun data (touristic data)
    untuk penyusunan paket-paket wisata, meter demi meter dan
    menit demi menit kawasan wisata kita (Detailed info on
    Places and Points of interest), harus dikompilasi guna
    dimanfaatkan oleh “Tour Planner” kita.Dengan adanya data
    tersebut Tour Planner kita bisa menyusun Timed & Detailed
    Tour Itineraries & Quotations secara benar.

    Brosur-brosur yang disebarkan ke luar negeri yang berbahasa
    asing, harus baik dan benar (no grammatical errors / error
    free and flawless).Mengapa kita enggan membayar “Penerjemah
    Ahli” (Competent Translator)yang memang mahal?

    Kapan Indonesia mempunyai “Sekolah Guru Pariwisata”? Bisa kita
    ibaratkan, kita ingin masakan enak, tetapi kita tidak mempunyai
    “Juru Masak”.Gagasan ini telah sering saya lontarkan di seminar-
    seminar sejak tahun 1990-an. Sayang sampai sekarang belum ada
    tanggapan dari pihak-pihak yang berkompeten.

    Beberapa minggu yang lalu saya juga mengusulkan penambahan
    konsentrasi untuk hal tersebut kepada yayasan pengelola
    STIEPARI Semarang dan Yogyakarta.

    Terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: