…………Travel Tourism Indonesia…TTIspot

. . . . . . . . . . Mari kita monitor denyut nadi pariwisata. Lihat PILIH KATEGORI.

Mendukung gerakan Inbound Tour Operator

Posted by Arifin Hutabarat pada 30 November, 2009

Wisnu Budi S.

Wisnu Budi S.

Pilih “memaksa” atau “menjual” kursi airlines asing?

Pemimpin tour operator di Jakarta mendatangi pimpinan Malaysian Airlines (MAS) dan AirAsia di Kuala Lumpur. Intinya mengatakan pada mereka: ”Kami ingin ikut mengisi kursi di pesawat Anda”. Maklumlah, ke Jakarta MAS saja beroperasi 16 kali sehari. Berhasil. Wisnu Budi Sulaeman, pimpinan (ketika itu) Pacto Tour and Travel, menceritakan, sejak itu hingga kini operatornya menjadi “handling agent” terhadap “in-house package tour” yang dipasarkan oleh kedua maskapai penerbangan Malaysia tersebut. Dan kita maklum,  yang full service airlines maupun yang LCC itu, memasarkan paket-paket ke pasar seantero dunia, selain di Malaysia sendiri.

Dia sependapat bahwa cara pemasaran dengan pola “operator mendatangi airlines”, sangat perlu diperluas. Wisnu menggunakan ungkapan “memaksa airlines asing” menjual paket wisata Indonesia, dengan meminta “Departemen Perhubungan” melakukannya. Tentu saja term “memaksa” sebenarnya tidak akan efektif, apalagi oleh instansi pemerintah termasuk Departemen Perhubungan. Pendekatan bisnis dengan orientasi “mengisi kursi di pesawat” dapat dipastikan lebih “tertarik” bagi maskapai penerbangan.

Airlines internasional yang dalam strategi pemasarannya memasukkan target pasar wisatawan mancanegara, lazim menciptakan dan memasarkan paket-paket wisata dengan destinasi yang dikunjungi. Itu merupakan in-house-packages yang dipasarkan dan dijual langsung oleh airlines yang bersangkutan, selain terbuka dijualkan oleh agen-agen yang ditunjuk. Salah satu persyaratan tentulah jika ada “inbound tour operator” yang dipercayai oleh airlines untuk bertindak sebagai “handling agent” di destinasi. Kalau tidak, maka harapan bagi pariwisata Indonesia akan terbatas pada para agen di pasar wisman yang memasarkan dan menjual produk wisata Indonesia, untuk mana mereka sendiri sudah mempunyai operator yang menangani di destinasi.

Pacto misalnya, yang menurut Wisnu tahun lalu menangani tour sekitar 19.000 wisman di Indonesia, untuk destinasi Bali bertindak sebagai handling agent juga bagi produk-produk paket Garuda Orient Holidays. GOH ini merupakan “in-house package tour” yang dimiliki dan dipasarkan oleh anak perusahaan Garuda Indonesia.

Garuda Indonesia sendiri memiliki “in-house packages” yang dipasarkannya khusus di Australia melalui GOH, dan ke pasar internasional lainnya melalui Garuda Indonesia Holidays (GIH). Handling agent dibagi-baginya pada operator yang ada di setiap destinasi yang dipasarkannya.

Realitas bisnis

Dari kenyataan di lapangan, Wisnu, yang puluhan tahun bergelut di bisnis inbound tourism ini,  mengakui beberapa kelemahan yang perlu diatasi untuk sungguh mendinamisir pertumbuhan dan perluasan jumlah kunjungan wisman ke Indonesia. Menurut dia, Departemen Perhubungan, Departemen Pariwisata, dan unsur-unsur industri pariwisata Indonesia, sebaiknya membangun semacam gerak bersama untuk, istilah yang digunakannya, “memaksa” airlines asing membuat paket wisata Indonesia dan menjual paket-paket tersebut di home-base mereka.

Selain itu, sumber daya manusia segera disesuaikan dengan kebutuhan riel. Sebutlah target hendak meningkatkan jumlah wisman dari Korea, Rusia dan China, hingga sekarang kekurangan jumlah tenaga ‘guide’ masih merupakan masalah. Perlu di-didik secara intensif dan ekstentif agar ketersediaan jumlah guide berbahasa Korea, Rusia, China dan lain-lain selalu mencukupi.

Kenyataan jumlah inbound operator di Jakarta, dihitungnya sekitar 10 perusahaan saja. Yang beroperasi di Bali, diperkirakannya dua sampai tiga kali lipat jumlahnya, termasuk yang kecil-kecil.

“Memang untuk menjadi inbound tour operator membutuhkan modal dan kepiawaian jauh lebih besar ketimbang agen untuk bergerak di bisnis outbound tour operator, juga domestik,” begitulah kata Wisnu. Sebelum mendapatkan counter part agen di luar negeri, yang akan mengirimkan wisman ke destinasi di Indonesia untuk ditangani, sang agen Indonesia harus berpromosi ke pasar di luar negeri. Boleh jadi dengan jalan berupaya sendiri, juga aktif mengikuti pameran-pameran pariwisata di luar negeri, dan mengikuti pameran serta kegiatan promosi yang dilaksanakan atau didukung oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Semua itu merupakan biaya pendahuluan yang relatif mahal.

Selain itu, sistem keuangan dan perbankan, ketika berbicara tentang bisnis pariwisata ini, Wisnu menunjukkan bagaimana perlunya revitalisasi kebijakan agar industri pariwisata di Indonesia “diwajibkan” menggunakan semua quotation harga dalam Rupiah. Jangan mata uang asing, apakah US dollar atau yang lain!

Wisnu menunjukkan kalkulasi bagaimana industri pariwisata Indonesia harus melalukan sedikitnya dua kali konversi mata uang, baik ketika menerima pembayaran, maupun saat hendak melakukan pelunasan dari  atau ke Client di luar negeri.

“Departemen Keuangan dan Departemen Pariwisata sebaiknya memperhatikan ini dan membuat kebijakan yang efektif,” kata Wisnu. Proses penerimaan hasil dan pembayaran biaya dengan sedikitnya dua kali konversi itu, jelas membuat harga kita tidak bersaing. Bahkan dengan negara-negara tetangga sendiri.

Di Kuala Lumpur, misalnya, jika agen setempat menjual harga paket wisata dengan destinasi Indonesia seharga US$ 150, maka keuntungan sang agen berkisar US$ 20. Namun jika mereka menjual paket wisata dengan destinasi Muangthai, dengan harga yang sama, maka keuntungan si agen dua kali lipat sekitar US$ 40. Sangat bersaing, bukan?

Padahal kita maklum, kecuali di Bali, harga-harga komponen utama paket wisata yaitu akomodasi dan transportasi darat, di Indonesia pada umumnya lebih rendah dari kebanyakan destinasi lain di negara tetangga. Di manakah letak “deviasi dalam struktur harga” itu? Ini menarik untuk dikaji oleh kalangan pelaku bisnis dan instansi-instansi pemerintah pendukung pariwisata tadi.

Wisnu Budi Sulaeman sendiri baru saja melepaskan posisinya sebagai General Manager di Pacto Tour and Travel, salah satu inbound operator terbesar di Indonesia. “Saya menyiapkan perusahaan sendiri, akan fokus ke bisnis MICE – meeting, incentive, convention and exhibition. Aktif efektifnya mulai tahun depan”, kata dia.  ===

Iklan

3 Tanggapan to “Mendukung gerakan Inbound Tour Operator”

  1. adi said

    saya ingin menanyakan bagaimana langkah awal untuk membuka pariwisata???dan bgmn crnya bs mndptkan investor???

  2. Fransiska said

    Hello, saya hanya mau tanya apa yang di maksud dengan inbound dan outbound tour? Terima kasih banyak untuk jawabannya .

    salam

  3. Arifin Hutabarat said

    Inbound tour adalah kegiatan tur oleh wisatawan mancanegara yang masuk atau berkunjung ke Indonesia.

    Outbound tour adalah sebaliknya, kegiatan tur oleh wisatawan dari (penduduk) dalam negeri Indonesia ke tujuan di luar negeri.

    Tks.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: