…………Travel Tourism Indonesia…TTIspot

. . . . . . . . . . Mari kita monitor denyut nadi pariwisata. Lihat PILIH KATEGORI.

Mengembangkan Pasar Negeri Cina

Posted by Arifin Hutabarat pada 13 Juli, 2010

Vinsensius Jemadu diinterview oleh TV di China (atas), Wakil Dubes RI di Beijing (kiri) dan GM Garuda Beijing (kanan).

Berbeda dari kegiatan Fam Trip ke luar negeri selama ini, kali ini Kemenbudpar mengirimkan 19 tour operator Indonesia ke negeri Cina dengan tema ganda: Fam Trip dan Benchmarking. Konsepnya, selain “seperti biasa” para agen-agen Indonesia memasarkan berbagai destinasi,bertindak selaku seller,  bobot business trip-nya juga ditingkatkan dengan motivasi benchmarking. Para operator tur Indonesia dibawa berkeliling dengan motivasi untuk menarik perbandingan, bagaimana rapi dan majunya pengemasan produk serta pengelolaan objek wisata di negeri Cina.

Dengan konsep demikian, Kemenbudpar mengorganisir dan memfasilitasi para pelaku bisnis dari Sumatra Utara, Jakarta, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali dan Lombok melaksanakan perjalanan bisnis ke tiga kota di Cina,  Beijing, Shanghai, Guangzhou pada tanggal 10 sampai 17 Juni 2010.  Disamping itu, juga diikutsertakan Kadisparda Yogyakarta dan yang mewakili Kadisparda Lombok. (Artikel ini telah dimuat di Newsletter Pariwisata Indonesia, terbitan Ditjen Pemasaran, Kemenbudpar, edisi Juni 2010).

Selama berada di tiga kota yang dikunjungi, mereka mengikuti pelaksanaan program pengembangan pasar ini dengan dua cara. Pertama, mengikuti pertemuanbisnis Table Top dengan para tour operator di negeri Cina sebagai buyer. Kedua, mengikuti peninjauan objek dan spot wisata dengan kesadaran bermotivasi benchmarking seperti disebutkan tadi.

Pada setiap paparan di pertemuan bisnis, pimpinan delegasi Indonesia, Vinsensius Jemadu yang mewakili Direktur Pengembangan Pasar Kemenbudpar, Syamsul Lussa, selalu berupaya “menjual” berbagai destinasi lainnya mencakup sampai Manado, Papua, Flores.

Wakil Dubes RI di Beijing, Mayerfas dan GM Garuda Indonesia, Sentot Mujiono, menunjukkan komitmen mendukung kegiatan ini dengan hadir dan aktif berbicara. Itu ketika diadakan acara Table Top di Beijing, di mana para penjual paket wisata Indonesia diperkenalkan dengan para agen penjual tur luar negeri yang berbasis di Beijing.  Dalam acara bertemu, berkenalan, dan berunding, terbukalah peluang menambah jumlah operator tur di negeri Cina yang menjual paket-paket wisata ke Indonesia. Bersamaan itu, terbuka peluang menjual lebih banyak destinasi wisata yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

Para pelaku bisnis pariwisata Cina  serius menyimak setiap paparan, bertambah pengetahuan mereka tentang berbagai destinasi selain pulau Bali, yang dipandang cocok bagi wisatawan dari Cina. Mereka  menampakkan anthusiasme.

Bagi seorang direktur operator tur dari Sumatra Utara, misalnya, setelah menjalani perkenalan dan berunding di Beijing, Shanghai, dan Guangzhou, yakin bahwa menjelang akhir tahun 2010 dia akan mulai menerima tamu wisatawan dari Cina.

“ Ya setidaknya mulai awal tahun depan lah,” kata dia.

Adapun yang berkenaan urusan destinasi khususnya, berkaitan pengelolaan produk dan objek wisata di daerah, para pemda dan Disparda tentulah merupakan pihak yang paling berkepentingan atau berwenang.

Maka metoda benchmarking yang dilaksanakan secara sadar, diharapkan akan menyebarkan motivasi meningkatkan kualitas dan kemampuan industri pariwisata dalam “melayani dan menyenangkan wisman”.

Nilai Tambah

Para anggota rombongan perjalanan bisnis sedari awal dan selama perjalanan disadarkan, bahwa selain mengembangkan pasar, sekaligus juga mengamati bagaimana penanganan turis oleh pramuwisata, bagaimana objek dan outlet wisata dikelola. Ini menjadi ‘nilai tambah’.

Sang pramuwisata, lancar berinteraksi dalam bahasa Indonesia, menguasai sedemikian banyak pengetahuan sejarah, setiap rute dan objek yang diliwati maupun disambangi. Interaksi dengan turis tamunya mengalir menyenangkan. Tentu saja antara lain berkat penguasaan bahasa tamu yang amat memadai.

Tourist spot di Great Wall di pegunungan tak jauh dari kota Beijing, misalnya, setiap hari dikunjungi oleh ratusan bus parwisata. Ribuan orang datang dan pergi, naik dan turun di dinding raksasa (yang secara keseluruhan panjangnya lebih 2600 KM.)

Para pengunjung tampak menikmati suasana care free. Tiada pedagang asongan, para supir bus memarkir mobil dengan rapi bahkan tanpa adanya penjaga parkir. Suasana serupa sebenarnya ditemukan di setiap objek dan outlet wisata, di restoran besar atau penjual souvenir.

Obat-obat herbal Cina sudah tercitra baik di dunia, maka di Beijing diperlihatkan, bagaimana obat-obat herbal itu dikemas, ditawarkan, dan menjadi objek turis untuk dikunjungi. Pada sebuah gedung misalnya, lantai 2 sampai lantai 7 disediakan ruangan-ruangan class room, khusus untuk menerima rombongan wisatawan. Setiap lantai menyediakan sekitar lima ruangan dengan kursi tersusun a la class room. Di situ, tamu disambut, diberi penjelasan awal dalam bahasa  tetamu. Kemudian setelah itu, beberapa  dokter dan professor memasuki ruangan, memberi pelayanan demonstrasi memeriksa kondisi kesehatan tamu. Satu per satu turis  yang bersedia diperiksa, didatangi ke kursi tempat duduk mereka.

Berdasarkan pemeriksaan itu, tamu mendapatkan penjelasan mengenai kondisi kesehatan fisik. Dan, diberikanlah advis, obat herbal mana yang perlu dikonsumsinya.

Daftar obat diperlihatkan. Sang ‘turis pasien’ boleh membeli atau tidak membeli. Harga obat-obat herbal yang terkemas secara modern itu, bervariasi dari US$ 50 sampai ratusan dollar.

Pola serupa dilaksanakan para pelaku bisnis di Cina pada pengemasan, pengelolaan dan penjualan “objek wisata teh”. Di lantai dua sebuah gedung “teh”, tersedia beberapa ruangan meeting room untuk 20 orang. Wisman duduk mengelilingi sebuah meja persegi yang rendah, di tengahnya seorang gadis mendemonstrasikan penyiapan minuman teh, menuturkan riwayat  maupun manfaatnya, lalu menyajikan untuk dicicipi tetamu. Nah, setelah itu, grup turis dibawa ke lantai satu: sebuah toko teh, para turis pun “terayu” untuk membeli. Ada teh yang bermanfaat bagi perbaikan kondisi bagian-bagian dalam tubuh manusia, mulai dari ginjal, hati, darah, dls.

Begitu pulalah di tourist spot penjualan keramik khas buatan Cina. Lantainya luas memajang produk, sebelum dan setelah memasuki ruang penjualan, wisman tamu menyaksikan handicrafter sedang mengerjakan berbagai bentuk kerajinan tangan itu: guci besar dan kecil, vas bunga, teko dan gelas untuk acara minum teh dls.

Maka para operator Indonesia yang berkunjung kemudian menyadari, betapa cara-cara yang apik seperti itu, membuat para turis merasa “diperhatikan dan disenangkan”, lalu kemudian merogoh kantong untuk berbelanja.

Benchmarking melalui perjalanan bisnis seperti itu, dalam konteks upaya pengembangan pasar pariwisata, menjadi “nilai tambah” dari sesuatu kegiatan promosi ke luar negeri.

Bahwa wisman perlu  “diperhatikan dan disenangkan” dengan pendekatan psikologis yang bagi mereka biasa dialami di negeri sendiri.**

Iklan

Satu Tanggapan to “Mengembangkan Pasar Negeri Cina”

  1. Saya terkesan dengan trik “diperhatikan dan disenangkan” dengan pendekatan psikologis ini.
    Kok saya liat, Indonesia masih jauh ya untuk “memperhatikan dan menyenangkan ” ?
    Ambil contoh mudah saja : 1.TOILET, baik toilet umum maupun toilet di AIRPORT ..masih jorok
    2. kasus Bali Taxi (group Blue Bird di Bali), tidak kunjung usai, demo anarkis, bule pada ketakutan. Amat disayangkan

    Blog Peluang Bisnis
    Luxury Perfume, Jual Parfum Original dan Murah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: