…………Travel Tourism Indonesia…TTIspot

. . . . . . . . . . Mari kita monitor denyut nadi pariwisata. Lihat PILIH KATEGORI.

Pedagang Valas Ikut Mewarnai

Posted by Arifin Hutabarat pada 3 September, 2010

Wisman memang ada yang mengeluh: di Bali dan di Jakarta, ketika menukar uang, misalnya lembaran US$ 100, kalau uang  kertasnya rapih licin, dihargai misalnya Rp 9500. Tetapi kalau ‘lecek saja sedikit’, pihak money changer menghargainya di bawah Rp9000. Di negara lain mereka tidak mengalami beda harga seperti itu. Wisman merasa dirugikan. Artikel ini telah dimuat oleh Newsletter PARIWISATA INDONESIA edisi Agustus 2010, terbitan Ditjen Pemasaran Kemenbudpar.

Mengapa terjadi demikian?

   “Ini karena market telah membentuk ‘ketentuan’ demikian akibat behavior pembeli sendiri”, begitu penjelasan dari

M. Balady, ketua Asosiasi Pedagang Valuta Asing. Menurutnya, diawali oleh banyaknya permintaan akan uang yang

rapih, baru, atau berseri dari para konsumen untuk berbagai keperluan, menjadikan uang yang kondisinya tidak rapih atau buruk menjadi ‘idle’ dan uang yang kondisinya baik menjadi ‘liquid’ yang akhirnya dinilai lebih tinggi.

   Namun menurut dia, tidak semua money changer menerapkan perbedaan harga tersebut. Bila money changer menetapkan

margin tinggi antara jual dan beli, maka uang dengan berbagai kondisi dapat dinilai sama rate-nya. Karena selisih rate akibat perbedaan kondisi uang kertas tersebut kecil, bila dibandngkan dengan margin yang diperoleh akibat adanya kegiatan jual dan beli.

   Dari situ antara lain apa yang dimaksudkan dengan, pedagang valuta asing, disingkat PVA, ikut berperan sebagai jajaran ‘front liners’ dalam memberikan pelayanan bermutu dan kemudahan terhadap wisatawan.

   Akan halnya bisnis ini, “PVA akan lebih berkembang di daerah di mana terdapat volume transaksi bisnis dan pariwisata yang tinggi. Maka PVA di Indonesia terbanyak berada di Jakarta, di Bali dan Kepulaun Riau. Di seluruh Indonesia, tercatat PVA sebanyak 801 yang berstatus sebagai kantor pusat,“ kata M. Balady, ketua BPP Asosiasi Pedagang Valuta Asing (APVA) Indonesia. Dia sendiri memiliki satu perusahaan PVA berkedudukan di Jakarta. Khusus di bidang pariwisata, dia

menyatakan bahwa PVA di pusat kegiatan wisata saat ini, seperti di Bali, sedang memerangi image yang kurang baik yang mengakibatkan kenyamanan aktivitas wisatawan terganggu, yakni berkembangnya money changer yang ilegal. Pe dagang Valas Ilegal menyamar sebagai pedagang biasa, atau sebagai pemandu wisata. Bentuk ketidaknyamannya antara lain complain dari wisatawan yang merasa dirugikan saat melakukan transaksi, di mana jumlah tukaran uang yang diterima tak cocok ketika usai transaksi. Menurut data DPD APVA Bali, diperkirakan dari keseluruhan pedagang valuta asing yang ada di pulau destinasi utama itu, 124 berstatus kantor pusat PVA dengan cabang 411. Tetapi diperkirakan terdapat seribu lebih

PVA ilegal.

   Langkah penertiban terus dilakukan melalui kerja sama dengan aparat pe negak hukum, dan mensosialisasikan kepada wisatawan untuk melakukan penukaran uang di outlet yang berlogo ‘Authorized Money Changer’ dari Bank Indonesia, jelas M. Balady lagi.

   Sebagai lembaga non bank yang berperan dalam menjaga stabilitas rupiah dan menjadi salah satu pintu masuk tindak pidana pencucian uang, tugas APVA Indonesia sebagai asosiasi yang mengayomi, melindungi dan meningkatkan performa PVA anggotanya, juga gencar mensosialisasikan Peraturan Bank Indonesia No.12/3/PBI/2010. Peraturan itu tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme Pada Pedagang Valuta Asing Bukan Bank, diterbitkan pada tanggal 1 Maret 2010.

   Dengan demikian, terkait hal tersebut, salah satu tugas PVA adalah melakukan pengkinian informasi dan dokumen

terkait dengan profil nasabah dan profil transaksi nasabah. “Jadi pada praktiknya saat ini transaksi penukaran uang di PVA harus melampirkan identitas, berapa pun jumlah transaksinya, termasuk juga bagi para wisatawan. Langkah ini akan

meyakinkan para turis bahwa mereka melakukan transaksi yang terkontrol di PVA legal yang mengikuti peraturan pemerintah. Ini tentu menjadi pendukung kenyamanan wisatawan saat berhubung an dengan money changer“,

kata M. Balady. ■

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: