…………Travel Tourism Indonesia…TTIspot

. . . . . . . . . . Mari kita monitor denyut nadi pariwisata. Lihat PILIH KATEGORI.

Indonesia Kembali ke Masa Depan

Posted by Arifin Hutabarat pada 23 Februari, 2011

Artikel ini ditulis oleh Winarta Adisubrata, pengamat pariwisata, mantan wartawan suratkabar harian Sinar Harapan. Atas izin penulisnya artikel ini kita muat di sini :       Kata Peter Drucker, cara  terbaik untuk memprediksi atau ‘meramalkan’ masa depan adalah dengan menciptakan masa depan.  Artinya, kita sendiri  harus menciptakan masa depan, sekarang ini juga.  Dan untuk itu  kita harus berani  menoleh  ke belakang. Bahwa sudah sejak  ribuan tahun  nenek moyang kita  mengarungi  perairan Nusantara yang oleh bangsa Cina Nusantara kita  mereka sebut sebagai Nan-hai atau Kepulauan Selatan,  karena letaknya  di sebelah selatan Cina.

      Sudah  seribuan tahun lalu pula   Valmiki, pencipta  epos besar ‘Ramayana’  menyebut  Nusantara  sebagai  Dwipantara  yang  mencakup   Swarnadipa  atau Pulau Emas dan Jawadipa  atau Pulau Jawawut. Keduanya  adalah  yang  sekarang kita kenal  sebagai Pulau  Sumatera dan Jawa.

      Orang Arab menyebut Nusantara Jaza-ir al-Jawi,’ dan  yang mereka maksudkan  bukan semata  Pulau Jawa, karena sejak nenek moyang kita ratusan tahunlalu menunaikan haji ke Mekah, di mata orang-orang Arab, siapapun  yang berasal dari   Nusantara mereka anggap sebagai datang  ‘dari Jawi.’

       Pararaton (‘Kitab Raja Raja’  ditulis setelah tahun 1481 M) , yang hingga kini belum  terungkap siapa penulis naskah  tertulis pertama   yang menggunakan kata ‘Nusantara’,  telah dijadikan  sumber authentik oleh Eugene Douwes Dekker yang kemudian berganti nama Setiabudi, (1879-1950), yakni cucu kemenakan dari Eduard Douwes Dekker  alias Multatuli,  penulis buku ‘Max Havelaar’ menggunakan istilah  Insulinde. Jadilah Douwes Dekker muda sebagai pengguna pertama kata Nusantara yang kemudian digantikan dengan kata ‘Indonesia.’

       Baru pada tahun 1850 James Richard Logan  (1819-1869)  menggunakan kata  ‘Indonesia’  sebagai istilah geografis untuk menghindarkan terlalu panjangnya  kata  ‘Indian Archiepelago,’ sekaligus  untuk  mencegah kerancuannya dengan (kata) India, seperti termuat   di dalam  majalah Journal of the Indian Archieplago and Eastern Asia (JIAEA)’ yang terbit di Singapura. Di dalam majalah  itu   Logan menulis artikel tentang  cirri-ciri utama dari  bangsa bangsa Papua, Australia,  Malayu dan  Polynesia.’

      Setelah tercetus gerakan kebangsaan Indonesia pada tahun 1908 yakni tahun  didirikannya Boedi Oetomo tergulirlah penggunaan nama Indonesia oleh Bung Hatta, pendiri Indische Partij, yang kemudian mengubah nama partainya   jadi  Perhimpunan Indonesia, disusul oleh  Raden Mas Soewardi Soeryaniningrat (yang kemudian berganti nama  Ki Hadjar Dewantara)  ketika dalam pembuangan di negeri Belanda  mendirikan  sebuah kantor berita  Indonesische Pers Bureau.

      Jika kita menghitung-hitung  kekaya-rayaan tanah air kita Indonesia, mungkin tidak akan pernah  paripurna penghitungannya, walaupun  secara terus menerus telah dilakukan  oleh pemerintah penjajah Belanda dulu maupun oleh Jepang ketika menduduki tanah air kita antara tahun   1942-1945.

      Bahkan setelah lebih dari 65 tahun kita merdeka kita pun belum tahu setepatnya apa saja yang kita miliki dan  seberapa besar  cakupan keserba-ragaman suku-suku bangsa di seluruh Nusantara,  masing-masing  dengan  adat-istiadat  serta kekayaan seni budayanya belum pernah tercatat rapi dan lengkap, yang secara keseluruhan merupakan warisan dari ratusan bahkan ribuan tahun perjalanan kehidupan yang berbasis kepada hampir  tiap dan semua  agama dan kepercayaan dari sejak jaman batu hingga berdatangannya  agama agama monotheistis yang ada di dunia.

    Semua itu menjadikan Nusantara yang diperlambangkan  Multatuli  bagaikan ‘rangkaian jamrud di katulistiwa’  dengan keragaman seni, budaya dan agama yang nyaris ‘tumpleg bleg’  di  tanah tumpah darah kita .

    Kekayaan alam berupa puluhan bahkan mungkin mencapai puluhan nribu species flora, fauna darat, sungai, danau dan lautnya    mencakup kekayaan zoo-geografis  dan botanis  yang berciri Asiatis maupun Australis yang puluhan bahkan ratusan ribu jenis atau speciesnya.

    Jumlah jenis bahan tambangnya di perut bumi Nusantara,  termasuk yang ada  di bawah laut,  demikian kaya sehingga daftar jenis mineral yang ada di seluruh muka Bumi maupun bawah lautnya tak mustahil  paling lengkap dibanding  dengan negara mana pun.

    Dan satu contoh yang paling menonjol barangkali adalah tambang logam di Tembaga Pura di Irian Jaya yang  ternyata adalah tambang emas dengan deposit emas paling banyak di dunia.  Sehingga  karena kekayaan tambang emas Tembagapura inilah yang barangkali telah menjadikan provinsi paling ujung di sebelah timur ini   nyaris tidak kunjung usai  sebagai  masalah internasional,  hingga  baru pada tanggal 1 Mei  1963  Dr.Jalal Abdoh  yang mewakili Pemerintahan Sementara UNTEA menyerahkan Irian Jaya kepada Bung Karno selaku presiden RI ketika itu.

      Keindahan dan kekayaan alam Indonesia  yang membentang secara vertikal dan horisontal dari Puncak Jayawijaya yang menjulang lebih dari   4000 m di atas muka hingga selalu diselimuti salju  sampai ke  dasar Laut Banda dengan kedalaman lebih dari  6.000 m di bawah muka laut tak tergambarkan betapa beraneka ragam dan betapa besar nilai dan maknanya bagi kita  sebagai Bangsa.

     Dan seakan-akan sudah  adat kebiasaan  dan ‘budaya’ sehingga kita selalu terlambat  menyadari betapa kaya raya kita  sebagai Bangsa. Dan ketidak-sadaran ini yang merupakan  kekurangan dan kelemahan kita yang mendarah daging dan turun temurun sejak ribuan tahun. Termasuk di antaranya kesantaian kita  mengembangkan pariwisata, terutama  wisata bahari  sebagai salah satu bagian dari hajad hidup manusia dan wahana  kita  yang harus  selalu bergerak maju  sebagai Bangsa.

    Sebagai catatan,  tanggal  27 September 2009 adalah  Hari Wisata Dunia yang ke-30  sejak diremikannya pada tahun 1980.  Surat kabar Sinar Harapan  adalah satu-satunya media Indonesia yang meliput Konferensi Pariwisata Dunia dari World Tourism Organisation pada bulan September-Oktober 1980 yakni ketika  tanggal  27 September resmi dijadikan  Hari Bakti Pariwisata Dunia.

    Setelah  30 tahun waktu berlalu seakan-akan terbang tanpa suara kita kurang menyadari bahwa  sekitar 900.000.000 wisatawan dunia yang melanglang bumi tiap tahunnya, dan   cuma kurang dari  1 persen dari jumlah itu  yang `mampir ke Indonesia, padahal  dunia mengakui kedudukan Indonesia  sebagai satu di antara yang ‘maha indah dan maha kaya seni budayanya’ di dunia !

Wisata Bahari

 

    Sejarah mencatat selama ribuan tahun Indonesia  menduduki posisi  sebagai tempat singgahnya manusia  yang lalu lalang sambil   berdagang sekaligus sambil saling memperkaya kebudayaan antara sesama bangsa sedunia, tetapi  kenapa  kita  seakan-akan  buta akan hal ini ? Buktinya hingga hari ini seakan-alam Indonesia menutup diri dengan cara menutup perairan  Nusantara  dari pariwisata bahari dunia  ? 

   Dengan ‘ancaman’ beban bea cukai yang nyaris tak terpikul oleh industri wisata bahari manca negara  mana pun yang hendak melintasi Nusantara dengan kapal pesiar mereka. Padahal sudah belasan tahun Indonesia  membanggakan diri dengan acara tahunan Sail Indonesia yang diselenggarakan tepat menjelang  hari kemerdekaan 17 Agustus ratusan kapal dari  berb agai penjuru dunia  ikut  serta dalam pesta bahari internasional kita itu. Yang sekaligus mengingatkan dunia dan diri kita sendiri bahwa  sudah berbilang abad Nusantara menikmati posisi silang di lalu lalang bahari dunia !

    Lebih menyedihkan lagi sudah puluhan tahun (bahkan sejak sebelum krisis  1998) banyak perusahaan perkapalan pesiar  menunggu-nunggu  untuk diijinkan memasuki perairan kita, seperti pernah mereka nikmati pada tahun 1970an.  Hal ini disebabkan  telah jenuhnya perairan Karibia dan Mediterania di samping Eropa  yang  sejak usai perang dunia II telah menjadi pusat-pusat kegiatan wisata bahari  dengan kapal kapal pesiar dan yacht.

    Kini perairan Asia,  dan  sedianya termasuk peraran Indonesia, telah mengembangkan diri  sebagai kancah wisata bahari seperti dipelopori Shanghai yang menjelang  Olympiade Beijing 2008  membangun pelabuhan khusus untuk kapal pesiar dengan kelengkapan canggih, menyusul pelabuhan-pelabuhan Singapura, Hongkong, bahkan Kualalumpur  dan kota kota pelabuhan Asia lain yang telah lebih dulu siap, dibanding Indonesia yang hingga hari ini nyaris belum  berbuat a.   Padahal, Bali sebenarnya  sudah siap dengan pelabuhan serupa di Padang  Baai , walau  tidak secanggih  Singapura atau Kualalumpur.

    Kenapa Indonesia belum menjawab  gedoran wisata bahari dari luar Asia yang telah  dijawab   positif oleh Kualalumpur,  Singapura ,   Bangkok  hingga Shanghai .

    Pelayanan global lewat  internet  dari mana pun di dunia  orang sekarang bisa memesan tiket untuk menikmati pelayanan kapal pesiar dari Holland America Line, misalnya dengan kapal pesiar  Volendam,  yang  sepanjang tahun mengarungi Alaska-Asia-Australia-Selandia Baru yang juga singgah di  Bali.

    Contoh lain, untuk tamasya  laut dengan jarak lebih pendek antara Bali – Lombok – Pulau Komodo dengan menggunakan  kapal pesiar kecil pun bisa dipesan bahkan dengan titik start dari Amerika atau Taiwan yang disambung  dengan pelayanan Bali – Komodo dimaksud.

    Cukup banyak tawaran serupa seperti diberikan oleh  perusahaan kapal pesiar lain yang melayani Indonesia, terutama  Bali, yang dapat dilihat  dan dipesan melalui internet.

   Seorang  John Daniel,  manager  ‘Spice Islands Cruises’ untuk Bali  sudah sejak lama   merumuskan  empat gagasan, bagaimana memacu  perairan Nusantara kembali  seramai  seperti belasaan tahun lalu. Kita yakin dan percaya akan iktikad  John Daniel setelah nertahun-tahun berkecimpung dalam bisnis wisata kapal pesiar di Indonesia.        Pengalamannya  membuktikan,   para pejabat Indonesia dipujinya  sebagai  cukup kooperatif  dan berminat  mengembangkan sektor  wisata kapal pesiar. Fasilitas dan pelayanan terus menerus bertambah baik di Indonesia. Ini terbukti dengan  telah dibangunnya  pelabuhan khusus kapal pesiar di Bali.

      Menurut John Daniel, untuk  menghidupkan  pasar wisata bahari di Indonesia perlu ditinjau kembali berbagai peraturan, khususnya yang menyangkut bea cukai. Di samping perlu  dibentuk task force khusus untuk wisata   kapal pesiar

      Kita perlu menyadari perlunya  menjadikan Indonesia kompetitif dalam wisata  kapal pesiar. Pemberian ijin menggunakan bendera Indonesia akan mendorong perekonomian Indonesia baik oleh kapal pesiar maupun kapal barang.

     Akan sangat menguntungkan bagi Indonesia, jika kapal asing  dilonggarkan dengan penggunaan bendera Indonesia baik untuk kapal pesiar maupun kapal barang yang akan  memperbesar  pendapatan nasional dan menambah kesempatan kerja.

     Di antara kunci utama bagi Indonesia memasuki dan sekaligus menciptakan  masa depan adalah  membuka perairan Indonesia untuk dunia luar,  demi kepentingan Indonesia sendiri  !  ***

Iklan

2 Tanggapan to “Indonesia Kembali ke Masa Depan”

  1. Semoga Berwujud dgn nyata apa yg kita rangkai utk masa depan Indonesia yg maju & bermartabat!

  2. winarta adisubrata said

    u/ pak arifin hutabarat

    alhamdulillah, atas doa dan bantuan lahir bathin anda kepada saya tulisan saya ini yang terhimpun dalam INDONESIA KEMBALI KE MASA DEPAN akan digandakan oleh Kementerian Pariwisata, mudah2an dalam waktu beberapa bulan mendatang.

    teriring ucapan terima kasih beserta doa, semoga pak arifin selalu di bawah payung lindunganNya dengan rahmat dan hidayahNya. amin

    wass

    winarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: