…………Travel Tourism Indonesia…TTIspot

. . . . . . . . . . Mari kita monitor denyut nadi pariwisata. Lihat PILIH KATEGORI.

Pontianak dan Singkawang, wisata perbatasan

Posted by Arifin Hutabarat pada 24 Februari, 2011

Wakil Walikota Pontianak, Paryadi

Wakil Walikota Pontianak, Paryadi

Walikota Singkawang, Hasan Karman

Walikota Singkawang, Hasan Karman

Hujan sedang turun tak begitu deras ketika saya tiba di gedung terminal bandara Supadio – Pontianak. Mau check-in untuk berangkat kembali ke Jakarta. Di lantai di hadapan jejeran kantor-kantor airlines tampak air berceceran hampir bergenang, tetesan air bercucuran hampir tiada henti jatuh dari atas. Orang-orang di sekitar situ harus mengelak-elakkan badan dari kucuran bocoran air hujan saat berjalan di hadapan kantor-kantor maskapai penerbangan. Beberapa supir taksi yang mangkal di situ mengatakan “ooh bocor ini sudah lama.” Memang keterlaluan juga rasanya sebuah bandara ibukota provinsi dalam hal ini Kalimantan Barat, wajah dan kondisi pengelolaannya tampak mengindikasikan kelambanan yang tidak patut lagi di tengah era persaingan bandara di dunia dewasa ini. Saya pun tak bisa menghindar untuk tidak basah dari tetesan air hujan yang “mengucur” dari tiga atau empat titik di langit-langit.

Sekali lagi, sebuah bandara provinsi, di mana hampir semua penerbangan nasional beroperasi ke situ, merupakan wajah terdepan provinsi, atau di dunia pariwisata disebut sebagai profile pertama destinasi. Salah satu ruang publik utama di mana pengguna bandara berlalu lalang, diganggu oleh kebocoran air hujan. Pemandangan pun tak mengenakkan, beberapa menit selang seling datang petugas yang “menyapu, mengumpulkan dan mengangkut” air bocoran hujan itu. Mengapa manajemen bandara tak mampu segera mengatasi atap-atap yang bocor? Sampai berbulan-bulan, seperti diungkapkan para supir taksi yang setiap hari “mangkal” di bandara? Bukankah pekerjaan memperbaiki atap bocor tergolong “elementer” di satu sisi, dan, mengganggu kenyamanan publik atau konsumen di sisi lain ?

Pertanyaan itu memang belum sempat diajukan pada yang berwenang. Kendati baik pula diakui bahwa bandara Supadio mulai mengalami tingkat kepadatan yang rata-rata tinggi, tidak menunjukkan kelemahan lain, kecuali tanda-tanda akan kebutuhan perlunya perluasan dan penambahan kapasitas.

Wakil Walikota Pontianak, Paryadi , saat saya ceritakan pun memperlihatkan wajah yang keheranan.

Ihwal Bandara di Kalimantan Barat, provinsi ini kini sedang menghadapi prospek baru di bidang pariwisata. Walikota Singkawang, Hasan Karman menegaskan “konfirmasi” hendak membangun bandara baru. Berbincang dengannya di Singkawang pada 18-2-2011, diulanginya bahwa izin lokasi dan izin prinsip  untuk membangun bandara sudah diterima. Bandara Singkawang direncanakan akan dibangun dan dikelola oleh swasta. “Tidak mengganggu anggaran pemerintah,” katanya jelas.

Kita bertanya,cukupkah sudah study dilakukan sehingga meyakinkan bahwa bandara baru di kota Singkawang,– tiga jam perjalanan darat dari Pontianak –, akan beroperasi kelak dengan menguntungkan ? Kota Pontianak ke kota Singkawang memang berjarak 140-an kilometer. Menurut walikota Singkawang “sekitar 60 persen penumpang penerbangan yang berangkat dari bandara Pontianak, berasal dari kota Singkawang dan sekitarnya.”

Gambaran tersebut semakin mengindikasikan potensi pertumbuhan pariwisata Kalbar umumnya, dan Singkawang dan sekitarnya pada khususnya. “Kekuatan” – strength – dan “peluang” – opportunity- terletak setidaknya pada dua faktor. Mayoritas etnis China pada komposisi penduduk lokal membuka peluang ramainya saling kunjung komunitas atau keluarga dari berbagai daerah lain: wisata nusanatara. Pintu masuk antarnegara di perbatasan dengan Malaysia dan Brunei, Aru, sudah mulai beroperasi. Maka, turis dari negara bagian Malaysia, Sarawak dan Sabah dan Brunei, akan lebih cepat sekitar dua jam untuk tiba di Singkawang atauPontianak, dibandingkan dengan jikalau meliwati pintu perbatasan Entikong yang sudah lama biasa dilalui.

Perayaan Imlek , Cap Go Meh, Cheng Beng, bagi masyarakat Tionghoa, setiap tahun mendorong maskapai penerbangan nasional untuk menambah extra flight selama seminggu sampai dua minggu setiap kali hari-hari perayaan tersebut datang. Kita pun maklum, masyarakat bukan Muslim umumnya dan Tionghoa khususnya juga cenderung berlibur pada Natalan akhir tahun dan Tahun Baru, yang berarti juga meningkatkan demand terhadap layanan penerbangan.

Dengan demikian, Kalbar umumnya dan kawasan sekitar Singkawang (kota ini berpenduduk sekitar 200 ribu, menurut Walikota) khususnya, mempunyai dua macam pasar wisatawan : wisata nusantara dan wisata lintas batas (mancanegara). Ketika puncak festival cap go meh tahun 2011 ini dilaksanakan di kota Singkawang tanggal 17 Februari 2011, ribuan orang datang ikut serta untuk meramaikan, untuk menonton, untuk mengunjungi famili, dan sebagainya. Mereka datang dari berbagai provinsi, dari Sumatera Utara sampai Lampung sampai pulau Madura, dari Bali, Sulawesi dan Indonesia Timur. Pola gerakan kunjungan masyarakat dalam negeri serupa ini berlangsung juga pada beberapa hari raya atau hari khusus lainnya.

Demikian pula ‘event’ tersebut telah dan akan semakin menjadi daya tarik bagi kunjungan wisman bukan hanya dari negeri tetangga,tapi juga dari daratan China maupun overseas China lain. Dua stasion TV dari China tahun ini mengirimkan kru meliput Cap Go Meh kota Singkawang. Event itu terbesar sebagai cap go meh di seluruh provinsi Kalbar, bahkan seluruh Indonesia.

Tahun ini pawai cap gomeh di Singkawanag itu saja diikuti sekitar 25 ribu orang peserta. Kelompok-kelompok wisnus dan wisman, bersama penonton lokal, tampak berjejer memadati sepanjang jalan rute pawai, di tengah-tengah kota Singkawang. Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata memberikan dukungan pada kegiatan pariwisata ini.*** (bersambung)

Iklan

2 Tanggapan to “Pontianak dan Singkawang, wisata perbatasan”

  1. Kyaknya wisata disana menarik banget,jadi pengen pergi ke pontianak 😀

  2. Pob said

    Sekarang saya tinggal di jawa, karena papa pindah tugas, padahal saya dulu lahir dan besar di singkawang hingga SMA, duh jadi pengen ke kampung halaman, kangen..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: